Sudut Pandang

oleh: Regilure

T: @regilure | IG: @nouvend

Aku duduk di bangku taman sambil memandangi orang-orang lalu lalang di bawah langit malam yang cukup gelap. Lampu taman yang tidak semuanya menyala menerangi jalanan di taman ini, menyinari sosok-sosok orang yang berjalan. Ada yang jalan membawa bungkusan belanjaan, ada yang berjalan sendiri, ada yang berjalan sambil bergandengan tangan, dan banyak lagi.

Aku memandangi orang-orang sambil tersenyum kecil ditemani alunan musik dari earphoneku. Akhir-akhir ini banyak hal terjadi, mulai dari pekerjaan yang semakin suram, kisah cinta yang berakhir rumit, dan beberapa kepahitan hidup yang terus menerjang seakan-akan langit sedang menguji seberapa lama aku bisa bertahan sebelum akhirnya menyerah pada kematian.

Aku meneguk minuman keras dari botol yang kugenggam erat sejak tadi. Sekedar untuk menghangatkan badan karena udara malam ini sangat dingin dan menusuk. Aku berpikir, berapa lama lagi aku akan bertahan di dunia ini jika keadaan ini terus berlanjut? Apakah aku akan bisa mencapai keinginanku sejak kecil untuk menjadi seseorang yang sukses dan membawa ibuku berjalan-jalan keliling dunia?

Atau sesederhana bahagia bersama orang yang tepat. Aku menghela napas. Aku mengecek ponselku untuk melihat pesan-pesan yang masuk karena sejak tadi sore aku mematikan jaringan ponselku untuk menikmati waktu sendiri.

Ponselku bergetar berkali-kali, tanda bahwa ada banyak pesan masuk. Pesan dari bosku, dari teman kerjaku, dari kawan lama, dari mantan pacarku. Semuanya berisi pesan-pesan yang kurasa tidak ingin kubaca sekarang. Aku butuh waktu untuk menenangkan pikiran setelah seminggu ini dihadapkan pada berbagai hal yang menguji kekuatanku.

Aku lelah, namun kurasa aku harus tetap kuat. Tidak ada yang akan memberiku uang jika aku hanya duduk di sini dan bergumul dalam kesedihan atas apa yang telah terjadi. Aku boleh merenung, tetapi aku tidak boleh tenggelam dalam kekecewaan ini terlalu lama. Aku harus bangkit, karena hanya diriku sendiri yang bisa membuatku bertahan di dunia yang kejam ini.

Aku meneguk lagi minuman keras yang kubawa, mengosongkan botolnya. Aku bisa merasakan kehangatan sesaat mengisi tubuhku. Tiba-tiba sepasang kekasih yang nampaknya masih dalam usia remaja lewat di depanku.

“… kamu harus lebih dewasa, jangan menganggap semua orang akan memperlakukanmu seperti kau memperlakukan mereka!” kata sang lelaki sambil memberi pandangan menggurui pada pasangannya.
Aku menghela napas kecil sambil terkekeh.
“Dewasa ya…”

Aku menyalakan rokok dan beranjak dari kursi taman lalu berjalan pelan menuju apartemenku.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *