Tanpa Saringan

oleh Lailiadevi

IG: @devitalailia

Pertanyaan demi pertanyaan terlintas dari berbagai macam mulut. Ada yang bertanya perihal ayah Lia, ibunya, bahkan sampai menggosipkan bahwa ayah Lia selingkuh. Satu lagi pertanyaan yang benar-benar membuat Lia jengkel setengah mati. Pertanyaan yang sebenarnya entah harus dijawab apa, adalah “kapan nikah?”
Dua kata, hanya dua kata. Namun mampu menyulut emosinya hingga ubun-ubun. Tidak habis pikir kenapa orang-orang itu suka mempertanyakan hal pribadi kepadanya. Tidak penting, sangat tidak penting malah. Apakah jika suatu saat nanti Lia menikah, mereka mau membiayai semuanya? Tidak juga bukan, pastinya mereka hanya bisa bicara tanpa saringan.
Sudah cukup Lia terusik dengan keadaan keluarganya yang entah, bisa jadi sudah tidak seharmonis dulu. Kali ini Lia tak bisa berbuat apa-apa. Walaupun dia sudah bekerja, menciptakan uang untuk ‘kekayaan’ masyarakat. Lia bekerja di salah satu bank Indonesia. Nah kebetulannya dia berada di bagian percetakan uang. Dia diberi kepercayaan untuk mengawasi semuanya.
Dalam hal ini dia butuh nasihat ayahnya. Dia butuh belaian ibunya. Sayang seribu sayang, itu bukan lagi menjadi kuasanya. Ibunya sibuk dan ayahnya jarang pulang. Hal itu sedari dulu sudah menjadi bahan cemoohan keluarga besar. Dan sekarang Lia sungguh tidak bisa percaya kepada setiap orang. Bahkan terpaut usianya yang sudah menginjak angka duapuluhan, sikapnya masih labil seperti remaja.

Jika dibandingkan dengan anak seusianya, mereka rata-rata sudah berkeluarga. Atau ada yang meraih kesuksesan di negeri orang. Mereka semua kaya dan dapat membuat orangtua ‘bangga’. Namun Lia malah masih berkutat dengan bacaannya yang enggan keluar dari zona nyaman.

Dia selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan sulit. Antara memilih pergi atau tetap tinggal bersama ibunya yang terus saja menekan Lia.
“Adik coba lihat foto-foto yang mama bawa!” Titah ibunya saat Lia berkutat dengan bukunya di ruang keluarga.
“Apa sih ma, palingan juga foto cowok-cowok yang kemarin.”
“Dik, mama begini juga demi kamu. Kamu sudah cukup umur untuk menikah, mama akan pilihkan. Mama tidak mau kamu berakhir seperti mama sekarang.”
“Cukup ma! Lia bisa pilih calon Lia sendiri.”
“Siapa, Ahmad maksud kamu? Dik dia sudah ninggalin kamu. Dia sama kayak papa kamu yang ninggalin mama. Pokoknya mama akan tetap mencarikanmu pasangan.”
“Lia enggak mau pacaran ma!” Lia membanting pintu kamarnya. Lia sangat kesal. Kenapa ibunya bisa seperti itu. Padahal dulu, dia adalah orang pertama yang akan mendukung Lia.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *