Ujian Terakhir

oleh Rani Amalia Busyra

T: @kekasihpuisi | IG: @kekasihpuisi

“Ini hari yang kita tunggu-tunggu,” Banyu membuka obrolan di meja makan pagi ini, “Menantikanmu dewasa, memakan usia kami, Sendaru.”

Semua orang yang tadinya sibuk dengan piring masing-masing langsung menatap sumber suara dengan kaget.

“Banyu, cukup,” Bumi berusaha memutus niat Banyu untuk melanjutkan percakapan yang dia yakin dapat membuat suasana menjadi panas.

“Sudahlah, Bang. Kamu pun sudah tidak sabar menunggu hari ini. Apalagi kamu adalah kandidat paling kuat di antara kita,” jawab Banyu tak peduli.

“Banyu!”

“Tidak usah diladeni, Bang Bumi,” Yala berusaha meredam Bumi, “Banyu, kamu beruntung, pagi ini hanya ada kita berenam di meja ini. Kalau kakek dan nenek mendengar ocehanmu tadi, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi.”

“Sampai sekarang aku masih takjub karena kamu masih bersama kami semua, Niyala. Betapa menyedihkannya wanita ini,” kata Banyu sambil tersenyum sinis ke arah Yala dan melanjutkan sarapannya.

Pungga dan Padu langsung bersiaga menahan Yala kalau-kalau dia naik pitam. Untungnya tidak.

Meja makan diselimuti sunyi. Tak dapat dipungkiri semua orang tegang menantikan entah apa ujian terakhir yang akan dihadapi kelima pangeran hari ini.

Daru menyelesaikan ujian memanah kemarin, mengakhiri rangkaian tiga bulan ujian yang pernah dilewati para pangeran lainnya beberapa tahun lalu. Dia cucu raja paling muda, sehingga mendapat giliran terakhir menjalani rangkaian ujian dan membuat para pangeran lainnya menunggu sembari ikut serta mengurus kerajaan.

Bumi mengurus bidang Perencanaan Keuangan Kerajaan. Banyu dan Padu berkonsentrasi di bidang Siasat dan Keamanan Kerajaan. Pungga, ditemani Yala berkonsentrasi di laboratorium.

Yala hingga saat ini tidak mau dijodohkan dengan pangeran dari kerajaan mana pun, dia ingin mencari sendiri pasangannya. Namun sepertinya itu hal yang mustahil karena dia sendiri asik di laboratorium sepanjang hari, pagi hingga malam. Nasibnya berbeda dengan Seruna yang sudah menikah dengan pangeran Kerajaan Paladi.

Sore hari, kelima pangeran dikumpulkan di sebuah hutan yang dulunya sering didatangi raja untuk berburu.

“Tidak kusangka ujian terakhir akan semudah ini. Hanya tidur semalaman di bawah pohon ini,” Banyu tertawa meremehkan sambil menatap Pohon Bulan.

***

“Setelah bersiap-siap dan tertidur, tak terjadi apa pun hingga terjaga di pagi harinya,” papar Bumi.

“Tidakkah kalian dihampiri mimpi? Oh, jangan kalian jawab. Dalam hati saja. Biar aku yang membacanya.”

Lelaki tua tabib kerajaan itu menatap kelima pangeran yang duduk di hadapannya. Kemudian tersenyum puas.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *