Beliau

oleh Taufan Sulaeman

T: @KataTaufan | IG: @KataTaufan

Tubuhnya boleh jadi renta. Tapi semangatnya masih semembara para pejuang 1945. Tak banyak yang tahu atau bahkan paham kalau beliau adalah pahlawan muda pada zamannya. Mau bagaimana lagi, sekarang zaman now-lah yang merajai.

Zaman berbeda dari musim. Kalau musim, temponya relatif lebih singkat daripada zaman, dan biasanya menghasilkan sesuatu yang musiman. Sebut saja baju, buah, bekas pacar, dan lain sebagainya. Tapi kalau zaman, rentangnya lebih lama, dan kerap memiliki generasinya sendiri, yang cukup signifikan perbedaan di antaranya. Kalau sekarang, katanya dimiliki oleh generasi millennial, dengan segala hal ihwal yang berbau digital juga online begitu lekat dengan kehidupan mereka. Bagaimana tidak, bayi yang baru lahir langsung punya akun media sosial, tapi entah untuk apa. Mustahil mereka langsung bisa saling komentar satu sama lain lihat foto telapak kaki kawannya yang sepantaran, paling dipakai orangtuanya.

Berbeda dengan zamannya, generasi pejuang mereka menyebutnya. Meskipun beliau bukan guru, tapi kemalasannya untuk turut serta supaya terdaftar di golongan veteran, tak menyurutkan keinginannya untuk menjadi pahlawan tanpa pamrih.

“Daftar jadi pahlawan, veteran pula. Pensiun dari perang? Perang akan selalu ada, Nak. Yang paling susah itu perang melawan hawa nafsu sendiri, di luar bulan puasa,” ungkapnya penuh kebijaksanaan yang terdengar klise.

Tiap subuh, beliau menyisiri jalanan protokol nan megah lagi indah. Zaman now, jalanan model sekarang bertrotoar seluas aspal di tengah, tidak terbayang kalau hanya beliau seorang pahlawan lingkungan yang bertugas. Itulah kesehariannya, bersihkan jalanan ibukota dari sampah apapun yang menyumpahinya.

Sayangnya, meskipun aku sampah masyarakat, tapi aku terlalu besar untuk turut disapu dan dibuangnya ke tempat pembuangan terdekat. Malu aku sebenarnya dengan si Kakek, badanku yang jauh lebih muda lagi bugar daripadanya, masih rajin daftar acara gratisan di sana-sini, berharap masih bisa jadi pahlawan apapun walau kesiangan.

Sampailah pada satu subuh, aku bertemu dengan si Kakek lagi. Kala itu aku sedang menunggu gebetan, yang mengajakku berlari pagi di hari minggu di Bundaran HI. Sudah beberapa waktu berlalu, tapi dia belum juga kunjung datang. Masih banyak bekal yang aku bawa di dalam tas, lalu kusapa beliau.

“Pak Zaman, mari. Kita sarapan, sini,” ajakku penuh semangat empat lima.

Akhirnya, bebanku berkurang. Citaku penuh suka sesaat. Lalu, beliau pun menjawab, singkat dan padat.

“Makasih, Nak. Inshallah masih kuat puasanya,” jawabnya.

Seketika, kakiku lemas, lunglai melayu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *