Mimpi

oleh Rafya

T: @opiloph

“Beberapa hari lalu, di usiaku yang sudah menjelang rembang, aku menjadi kanak-kanak lagi dalam mimpiku. Aku dan kedua temanku menyusuri rel kereta api di samping sungai yang beriak saat capung dan semilir menyentuh. Matahari bersinar begitu terik, tapi tidak menyengat. Cuaca berembus nyaman. Aku berjalan beberapa langkah di belakang teman-temanku,” kakek tersenyum dalam pembaringannya. Badannya yang dulu besar, mulai susut dan ringkih. Aku duduk di sampingnya, tanpa berkata sepatah pun.
“Kedua temanku sudah meninggal. Kamu mengenalnya, bukan? Tidak, kamu pasti mengenalnya. Namanya Anton dan Syamsudin. Sudah beberapa kali mereka berkunjung ke rumah ini, dan kami mengobrol santai di pendopo ditemani teh panas dan pisang goreng,” lanjutnya.
“Kami selalu membincangkan hal yang sama. Tentang kampung yang sudah berubah, yang jalan-jalannya dipenuhi papan reklame—bukan bunga-bunga, dan sisi-sisinya ditumbuhi gedung-gedung bertingkat—bukan pepohonan, yang udaranya dipenuhi suara kendaraan—alih-alih kicau burung yang merdu. Pada akhirnya, masa lalu hanya menyisakan nostalgia, jika bukan kenangan.”
Lalu hening.

“Sebagian terganti, sebagian tak terganti. Sebagian pergi, sebagian abadi. Tapi ada satu hal yang pasti, apa yang kembali tak selalu sama dengan apa yang dirindu,” kakek memejamkan matanya. “Jika bukan dunia yang berubah, akulah yang berubah.”

Aku menyentuh tangannya yang kurus dan gemetar. “Tapi aku tidak menyesal,” dia tersenyum. “Hidup ini indah.”
“Aku sudah mengalami mimpi yang sama berulang kali, sampai-sampai terasa begitu nyata. Tempatnya pun sama. Selalu di samping rel kereta api di sisi sungai yang jernih, yang airnya berkilauan bagai tabir cahaya dibelai cuaca yang hangat. Aku pun senantiasa berjalan di belakang mereka,” katanya.

“Tapi malam tadi—“ kakek menyerahkan sebuah pir hijau yang besar dan tampak lezat padaku. Pir itu berbeda dari semua pir di dunia. Aku menatapnya penuh tanya. “Tapi semalam tadi, mimpiku berbeda. Seorang yang wajahnya tak terlihat karena tertutup cahaya, datang menghampiriku di kamar tidur masa kecilku. Dia membelai rambutku dan memberiku pir ini,” ujarnya.

Aku tidak menemukan kebohongan dalam matanya, jadi aku menerima pir itu dan mengupasnya, lalu kami makan bersama. Aku menyuapinya dengan sabar dan dia memamahnya perlahan. “Jadi, waktunya sudah tiba, kan?” katanya, setelah menghabiskan bagiannya dan meminum segelas air. Aku menggenggam tangannya dan mengangguk, “Maaf.”
“Kenapa maaf?” kakek tertawa pelan, “Semenjak mimpi pertama, sebenarnya aku sudah bertanya-tanya, kapan aku bisa menyusul mereka?”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *