Pernikahan Rubah

oleh Rafya
T: @opiloph


Konon, saat gerimis merenyai pada siang yang terik, di tempat yang tidak terlampau jauh, sepasang rubah sedang melangsungkan pernikahan. Tentu aku tidak percaya, sampai pada suatu hari, saat bermain di hutan, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri: iring-iringan pengantin di jalan setapak, di antara rumpun bambu yang terang itu. Di posisi paling depan, sepasang lelaki dan perempuan berjalan pelan dengan topeng putih menutupi kepala. Langkahnya begitu tenang dan lembut, bagai enggan mengangkat kaki. Di samping mempelai laki-laki, mempelai perempuan menyeret gaun pengantinnya. Di belakangnya, para tamu, dengan wajah tertutup topeng, berbaris dua-dua. Antreannya mengular begitu panjang, entah sampai mana.

Meskipun meriah, satu-satunya kesan yang tertangkap justru sebaliknya—hening. Atau senyap, lebih tepatnya. Tak ada suara yang terdengar, kecuali derik sunyi yang dibisikkan alam. Bahkan langkah kaki mereka tiada tapaknya. Alangkah ganjilnya! Cuaca menyengat begitu tajam, namun tak terlihat lelehan keringat yang merembes di baju mereka. Semuanya kering dan bersih, tanpa tersentuh noda. Aneh, padahal sejak tadi gerimis turun terus menerus.

Dengan tangan, aku menutup mulutku erat-erat dan berharap tidak ditemukan siapapun. Seraya duduk seranggung di belakang pohon, aku bernapas selampas dan senyenyai mungkin. Di bajuku yang kuyup karena peluh, hujan gerimis menggetarkan surai-surai lembutnya yang berkilauan—meninggalkan kesejukan yang empuk, bagai sentuhan tangan nenek yang pulen saat subuh menyambut. Angin mendesah lirih di telingaku, mengeluhkan detik yang berlalu begitu lelet. Daun-daun tertawa ditimpa terik tsurayya yang berseri siang itu. Mendadak, di dalam kepalaku, bergema suara tawa yang gaib, namun begitu galib. Gaung girang yang jauh itu, aku yakin berasal dari iring-iringan yang sekarang berada di hadapanku—perayaan yang tidak semestinya aku hadiri.

Saat teringat pesan kakek, sang pendongeng yang menyampaikan kisah ini, keringat mendirus semakin deras membasahi keningku. “Jika kamu tak sengaja menghadiri pernikahan rubah, jangan sampai ada yang melihatmu—baik kedua mempelai maupun yang lain. Bergeminglah, tanpa suara. Atau kamu akan dibawa ke alam mereka,” kata kakek, bertahun-tahun silam di pendopo yang sejuk. Tapi nenek malah tertawa, “Tidak, mereka justru akan mengantarmu pulang,” katanya. Entah mana yang benar. Tapi aku tak berani mengambil risiko. Tapi, aduh, sampai kapan iring-iringan ini berlangsung? Harus berapa lama aku menunggu?

Lalu aku sadar. Nenek dan kakek sama-sama benar. Aku pun berhenti sembunyi. Bukankah dulu ibu pernah melingkupiku— memelukku dengan ekornya yang hangat?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *