Sampai Aku Mati

oleh Sari Margaretta
T: @margaretta_99 | IG: @margaretta_99

Tak pernah kusangka hidupku begini miris. Mencintai perempuan yang telah bersuami. Sangat mencintai dan menyayanginya. Bertahun-tahun hidup dalam penantian yang tak kunjung kutemukan ujungnya. Seribu malam aku abdikan diri pada doa, ternyata Tuhan enggan mengabulkan.

Sudah berkali-kali aku memarahi diriku sendiri agar berhenti menaruh cinta untuknya. Namun, aku tak sanggup. Aku terus saja merindukan perempuan berlesung pipit itu. Hadir di angan dan pelupuk mata.

Aku juga pernah mencari kekasih. Tapi, lagi-lagi gagal. Alasannya tak pernah kutemukan. Yang aku tahu, aku sudah menyerahkan hatiku pada perempuan itu, Santi. Banyak cibiran memojokkanku, karena saat itu aku masih saja lajang di usiaku yang menginjak 30 tahun. Tapi, mereka tak pernah tahu bahwa Santi selalu ada dalam hati.

Hatiku berkecamuk setiap hari. Apa lagi saat kulihat senyumnya yang menghipnotis. Ah, amboiiii syahdu sekali. Aku merasa mendapatkan sebuah ketenangan bila senyuman itu dia beri untuk diri ini. Semua sel-sel ku mendadak beku saat tak sengaja tangannya menyentuh pundakku. Tapi setelahnya, aku merasa kesepian. Ah mana mungkin aku berdoa agar Santi berpisah dari suaminya dan menjadi milikku? Khayalanku benar-benar gila.

Aku menipu diriku sendiri. Di depan orang, aku adalah pria sukses dengan bisnis tak terhitung jumlahnya. Namun, aku lelaki yang sangat lemah di hadapan Santi. Bahkan air mata pernah tercucur saat kudengar kabar pernikahannya dulu. Hatiku hancur dan masih saja kupungut kepingannya demi mencinta dan terus menantinya.

Tuhan, kau tahu luka tak mampu terhapus begitu saja. Rambut putihku kini jadi pertanda bahwa penantian ini sungguh bukan waktu yang sebentar. Tanganku yang mulai keriput dan langkahku yang mulai gontai ternyata bukan jadi penghalang tentang rasa sayang yang begitu mendalam pada Santi. Minum teh sendirian pada sore hari rasanya kurang manis tanpa kehadiran kekasih hati. Aku menatap jauh, jauh, dan jauh. Berusaha menggambarkan kembali rupa Santi dalam benak.

———-

Seusai petang, seorang kakek bernama Indra Kurniawan terlihat duduk bersimpuh di masjid. Wajahnya lesu. Dia nampak terus berdoa dan tetap melangitkan nama Santi. Setelah menengadah, dia bersujud. Merapal kembali ribuan doa. Lama sekali dan tak kunjung bangun.

“Tolong, bapak-bapak tolong. Sepertinya Pak Indra gak gerak-gerak daritadi,” ucap seorang takmir masjid.

“Tolong cek denyut nadinya, Pak,”

“Innalillahi wa innailahi rajiun. Pak Indra sudah berpulang,” kata jamaah yang lain.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *