Senyum Nenek

oleh Adib La Tahzan

T: @TdmAdib | IG: @Adiblatahzan

Selesai kuliah. Angga, Ahmad, Anam, Anita, dan Amanda langsung meluncur menuju indekosnya Angga untuk mengontrol aplikasi close. Mereka sangat bersemangat untuk mengembangkan aplikasi close, karena mereka punya jiwa sosial yang tinggi.

Mereka tidak peduli dengan iklan, karena mereka mendirikan sebuah startup dengan tujuan untuk membantu orang tua mengontrol anak-anaknya dalam menggunakan ponsel. Namun, Tuhan itu adil. Mereka banjir iklan, karena dalam waktu yang singkat aplikasi close sudah diunduh oleh hampir satu juta pengguna ponsel di Indonesia.

Di sela-sela pembahasan aplikasi close, tiba-tiba Amanda menangis. Tentu hal itu membuat penasaran teman-temannya.
“Lu kenapa, Nda?” tanya Anita.

“Gue ingat nenek gue,” jawab Amanda.

“Emang nenek lu kenapa, Nda?” tanya Ahmad.

“Nenek gue sakit-sakitan, gue kasihan,” jawab Amanda lagi.
“Sudah dibawa ke rumah sakit apa belum?” sahut Anam.

“Jadi begini teman-teman, Manda selama ini hanya di rumah sama Nenek dan bibik. Orang tua Manda tinggal di Inggris. Jadi Manda yang merawat Nenek,” jelas Amanda.

Mereka baru sadar kalau mereka belum pernah ke rumah Amanda. Hanya Anita yang selama ini dekat dengan Amanda. Namun, setelah Amanda bercerita tentang neneknya. Angga memutuskan kalau nanti sore bakal ke rumah Amanda bersama semua temannya.

Sore pun tiba, Amanda dan keempat temannya langsung pulang ke rumah Amanda. Sesampainya di rumah Amanda, mereka disambut Bibik Atun. “Eh, Non Manda. Sudah pulang.”

“Bagaimana dengan Nenek, Bik?” tanya Amanda.

“Nenek ada di kamarnya, Non. Sebaiknya diajak masuk dulu teman-temannya, Non.”

“Ohya, mari masuk semua, anggap saja rumah sendiri.” Amanda mempersilakan teman-temannya masuk.

Amanda langsung menuju ke kamar neneknya, dan dikuti semua temanya. Sesampainya di kamar sang nenek, mereka prihatin dengan kondisi sang nenek. Amanda mencoba menelepon Ayahnya yang di Inggris. Namun sang ayah pasrahkan semua pada Amanda, soal biaya bakal ditransfer.

Angga hanya geleng-geleng mendengar percakapan Amanda dan ayahnya, yang menurut Angga tidak sepantasnya seorang anak bersikap seperti itu. Bagaimanapun kehadiran seseorang anak sangat diinginkan oleh orang tua di masa lansianya. Setelah melihat kondisi sang nenek yang sangat lemah, Amanda hanya menangis di pelukan Anita. Sementara itu Angga, Ahmad, dan, Anam memutuskan untuk membawa sang nenek ke rumah sakit.

Setelah dirawat di rumah sakit beberapa hari sang Nenek akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Senyum pun kembali terpancar dari wajah sang nenek, yang merasa memiliki lima orang cucu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *