Solilokui

oleh Ade Yusuf
T: @sibangor | IG: @siadebangor



Biasanya, setelah Teana selesai menyikat gigi, ia akan menatap cermin barang satu atau dua menit, untuk sekadar berkontempelasi, melepaskan segala beban pikiran yang menumpuk sepanjang hari, sebelum ia berangkat tidur. Namun, malam ini ia dikejutkan oleh beberapa helai rambutnya yang berwarna putih keperakan. Ia pandangi rambutnya dan sesekali menatap cermin dengan hati yang gelisah. Tak mungkin aku sudah tua, pikirnya.


Di atas ranjang, Teana berkutat dengan ponselnya. Sebuah aktivitas yang selama ini ia pantang. Bila sudah berbaring, ia pasti mematikan ponselnya. Malam ini, uban telah menghilangkan rasa kantuknya. Ia rela tenggelam dalam pencarian merek cat rambut serta cara-cara menghilangkan uban. Bahkan suara ngorok Adrian, suaminya, yang keras seolah lenyap dari pendengaran.

Teana dan Adrian memang kembali hidup seperti pengantin baru, karena kedua anaknya telah tinggal sendiri di tempatnya masing-masing. Yang sulung memilih menyewa apartemen dekat kantor, sedangkan si bungsu masih kuliah di Australia. Namun, kali ini Teana sepertinya belum siap menerima kenyataan baru yang harus ia jalani.

Teana terbangun dengan perasaan sangat lelah dan lemas. Kepalanya berat. Selain karena ia kurang tidur dan pikiran yang penuh, juga mendapati suaminya beraroma beda.

“Kamu mandi parfum ya, wangi banget?”

Adrian yang tengah asyik bersiul sambil berdandan, segera mengernyitkan dahi, mendengar pertanyaan Teana. Menurutnya, ia tampil seperti biasanya bila akan berangkat kerja. Kenapa baru kali ini, istrinya memandang curiga?

“Suamiku ini sekarang rambutnya licin, pakai sepatu kets bukan lagi pantofel. Ada yang lagi ditaksir?”

“Apa sih, Mama? Bangun tidur udah ngegas. Presiden aja ngantor pake sepatu kets, masak aku nggak boleh. Udah ah, Papa berangkat dulu. I love you.”

Sikap Adrian itu makin membuat kepalanya pening. Boleh jadi suaminya tengah memasuki fase puber kedua. Sebagian besar teman pria seangkatannya saat kuliah, mengakui pernah mengalami fase itu. Selera sarapannya mendadak lenyap. Upayanya menjaga postur tubuh dan merawat kecantikannya selama ini, dirusak oleh uban yang tumbuh di kepalanya. Menggunting uban yang sekarang tumbuh bukan solusi, karena pasti akan tumbuh lagi lain waktu. Ia ingin hilang selama-selamanya.

Sebab ada satu yang paling ia takuti sejak semalam. Hari ini adalah jadwal rutin pertemuannya dengan John. Ia tak mau lelaki itu tahu, Teana telah menjadi perempuan tua.

Tak lama, ponselnya berdering. Teana risau. Ia belum pernah setakut ini kehilangan orang yang dicintainya. [*]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *