Firasat Berantai

oleh Sari Margaretta

T: @margaretta_99 | IG: @margaretta_99

Kepalaku mau pecah. Sedari tadi aku menemukan rentetan peristiwa memilukan. Saat baru tiba di kantor, aku pening. Aku harus minum kopi. Ada aroma tak sedap dari bawah meja dapur. Ya Tuhan, si Black White menjadi bangkai. Kucing kesayangan para karyawan itu sudah tak lagi menemani saat kami hendak makan siang. Lekas aku meminta tolong office boy untuk memakamkan Black White dengan layak.

Saat kembali dari dapur, aku terhenyak melihat komputerku mati mendadak. Ada apa ini, batinku.”Kenapa komputerku, ya?”

“Mungkin minta ganti yang baru,”

“Aku pinjam komputer Pak Yayat deh,”Ah, menjengkelkan sekali. Kerja di meja kerja orang lain sama saja seperti anak baru. Masih meraba-raba karena belum nyaman.

Saat jam ishoma, aku makan di depan TV. Ada artis meninggal saat naik daun. Kontroversi antara dibunuh atau benar-benar bunuh diri. Selera makanku tiba-tiba hilang saat melihat ceceran darah di pemberitaan TV.

Saatnya kembali bekerja. Aku benar-benar ingin hari ini lekas berlalu. Cring. Bunyi HP-ku tanda baterai sekarat. Minta dicas.

Jam dinding menunjukkan angka 5. Syukurlah, kerjaku berlalu begitu cepat. Sebelum matahari terbenam, aku harus tiba di rumah. Ayahku memintaku untuk menemaninya menjenguk bude di rumah sakit. Oh ya, HP-ku hampir saja tertinggal. Langsung kumasukkan ke dalam tas.

Aku melaju dengan kecepatan tinggi. Di lampu merah, anak muda meminta sumbangan untuk seorang janda yang ditinggal mati suaminya dan kini hidup sebatang kara. Dus bekas mereka tawarkan pada tiap pengendara. Mulia sekali hati mereka. Tak terasa memandang para pemuda itu, klakson berbunyi saling sahut. Sudah lampu hijau ternyata.

Rumah bercat biru di ujung jalan itu nampak ramai. Ada apa kok banyak sekali orang di rumahku? Motor dan mobil terparkir rapi. Berdesir darahku saat kuparkir motor dan mataku menatap bendera kuning. Aku lari menuju ruang tamu. Ayah. Ayah sudah berkafan. Ibu, tetangga, sanak saudara, dan macam-macam orang menangisi Ayah.

“Nisa, ayah. Ayah tadi jatuh dari kamar mandi,”

“Aku tadi menghubungimu tapi tak kunjung kau angkat teleponku,”

“Yang sabar, Nisa,”Suara-suara itu menyesakkan dada. Setelah sadar dari kagetku, aku menangis histeris. Aku baru ingat, HP-ku di-setting silent. Aturan kantor dari dulu. Semua peristiwa hari ini adalah firasat yang tak kusadari.

Ayah, kau pulang lebih dulu sebelum kita menjenguk Bude Harun yang koma.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *