Rafa Pergi Ke Neraka

oleh Rafya

T: @opiloph

Sudah setahun Rafa, tokoh utama kita yang bijak bestari ini, tinggal di Surga. Dia mulai terbiasa dengan suasananya yang serba anteng. Untuk biaya hidup sehari-hari, dia bekerja di sebuah toko yang menjual kue-kue berbahan dasar tepung aspodel. Roti-roti ini pernah dibagikan kepada orang-orang Israel saat mereka menyeberangi laut merah.

Pada akhir tahun, tepatnya seminggu sebelum Natal, Rafa berencana berkunjung ke Neraka, dengan menumpang bus Trans-heaven dan turun di daerah perbatasan. Kebetulan, Neraka dan Surga berada di satu kepulauan yang sama, hanya perlu melewati pos penjaga diam-diam. Isekai berada di belahan akhirat yang lain. Tabungan Rafa belum cukup untuk membeli tiket pesawat.

Berbeda dengan Surga, di Neraka langit selalu sore dan memancarkan siluet jingga yang lembut. Matahari tak pernah terbenam—terpacak abadi di Barat, seperti di Negeri Senja karangan Seno Gumira Ajidarma. Rafa menyembunyikan halo di kepalanya dan menyimpannya di balik jubahnya. Dia berjalan berkeliling dan melihat penghuni Neraka saling berinteraksi. Para Iblis dan pendosa menyapa ramah saat berpaspasan. Anak-anak berlarian di samping sungai lava yang dipenuhi ikan-ikan laut dalam. Para pemuda membungkukkan badan di depan lansia. Sungguh pemandangan yang sejuk, beda dengan Surga yang serba kaku.

Saat Rafa berjalan-jalan di pasar tradisional yang bersebelahan dengan pusat kota, dia melihat papan reklame yang menampilkan potret HELL48 yang akan mengadakan konser di salah satu mal di Ibukota. Rafa menyukai salah satu yang berwajah sayu. Siapa namanya? Sepulangnya nanti, dia akan mencarinya di Perpustakaan Surga.

“Rafa?” seseorang menepuk pundaknya.

Rafa menoleh. 

“Pedro?” ujarnya kaget saat melihat pria tampan berwajah oriental di belakangnya. Ada tanduk kecil di kepalanya. “Kenapa kamu ada di sini?”

“Aku masuk Neraka karena melakukan dosa berat—dosa yang mustahil dimaafkan, yang sudah tercatat dalam kitab kehidupan, semenjak yang purba masih bernapas.”

Rafa memandangnya bingung. Semasa hidup, Pedro pria paling baik yang pernah dia kenal. Pemuda yang berasal dari Meksiko ini rajin, juara kelas, tidak pernah terlambat masuk sekolah, dan senantiasa mengizinkan Rafa menyontek PR-nya setiap pagi. Apa yang membuatnya bisa terjebak di Neraka? Dia sangat pantas tinggal di Surga, sebab dia orang yang membosankan.

“Dosa apakah yang kauperbuat, Pedro? Jelaskan,” Rafa bertanya dengan meniru gaya bicara tokoh-tokoh di sinetron telenovela. Dramatis habis.

“Semasa hidup,” jawabnya lirih dan penuh penyesalan, “Aku menyantap bubur dengan cara diaduk.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *