Rafa Pergi Ke Surga

oleh Rafya

T: @opiloph

Sepanjang hidupnya, Rafa adalah pemuda yang baik. Selain mempunyai wajah yang enak dipandang—dia tidak mau disebut ’tampan’ karena terlalu berlebihan, meski dia memang tampan—dia punya sifat yang lembut dan penuh welas asih. Dia juga rajin bekerja, riang, serta gembira. Sebagai pria bijak bestari, dia selalu menyempatkan diri menonton anime, membaca manga, dan bermain gim, yang di Bumi merupakan hobi istimewa karena hanya dimengerti segelintir elit. Namun, sayangnya, di usianya yang masih muda, pemuda berhati mulia ini meninggal tertabrak truk berkecepatan sepuluh kilometer per jam. Satu-satunya hal yang dia inginkan sebelum maut menjemput adalah dilahirkan lagi di dunia Isekai, tapi dia malah dibawa ke Surga.

Jadi di sinilah Rafa sekarang, mengenakan jubah putih menyilaukan, lengkap dengan lingkaran halo di atas kepalanya. Pemuda yang berdiri di balik meja resepsionis berkata pada Rafa yang senyumnya membuat para malaikat dan bidadari—bidadara juga, jatuh pingsan karena terpesona, “Sebab semasa hidup, Anda sering membuat postingan yang membandingkan generasi Anda dengan generasi masa kini, maka kami selaku dewan akhirat, menempatkan Anda di Surga generasi 1990-an, yang mana, sepanjang keabadian, Anda bisa bermain layang-layang, kelereng, lompat tali, engklek, atau sepak takraw sepuas hati, seperti yang selalu Anda banggakan di Bumi,” katanya.

“Tidak ada Internet?”

“Ada. Tentu ada. Anda bisa memakai Internet di Perpustakaan. Tapi jaraknya cukup jauh, 500 kilometer dari bagian Surga yang Anda tinggali, dan servernya pun dilengkapi Internet Positif yang terinspirasi kebijakan di sebuah negara adidaya di Asia Tenggara, tapi versi kami tidak bisa dijebol VPN. Juga tidak bisa dipakai untuk mengakses media sosial, seperti Fesbuk, Youtube, dan Twitter—apalagi Twitter—terutama Twitter. Tapi tenang, di sini ada Godtube yang menyiarkan keseharian Surga, kadang ada konser tunggal malaikat yang menyanyikan lagu-lagu surgawi juga. Syahdu. Anda pasti suka.”

“Gim Internet?” Rafa teringat hal terpenting dalam hidupnya.

“Gim Internet hanya untuk penghuni Neraka,” kata pria di balik meja resepsionis. “Anda pernah berpendapat di medsos, gim Internet itu terlalu vulgar, sarat kekerasan, dan tidak ada faedahnya. Kami setuju dengan Anda. Biar pendosa saja yang memainkannya.” 

Lalu dia mempersilakan Rafa memasuki pintu Surga dan mengutus bidadari kekar untuk mengantarnya. Dia berjalan terhuyung-huyung tanpa semangat. Terbersit dalam hatinya untuk menyusup ke Neraka suatu hari nanti. Di sana pasti ada gim eroge. Dia rindu waifu-nya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *