Taman Kota di Sore Hari

oleh Riffa JP

IG: @riffa.jp

Sore itu, setahun lalu, aku begitu bosan dengan rutinitas pekerjaanku. Membuatku sengaja pulang lebih cepat dari kantor hanya untuk duduk di kursi taman, mengamati anak-anak yang sedang mengejar kupu-kupu. Sampai akhirnya, datang sepasang lansia yang berjalan pelan mengitari taman sambil bergandengan tangan.
“Ah, bahagianya. ujarku bersamaan dengan seorang pria tidak jauh dari tempatku duduk.
Kami saling menatap heran lalu tertawa canggung, menertawakan suatu kebetulan yang terjadi pada kami. Itulah saat kami pertama kali bertemu.
Sebuah pertemuan yang bagi sebagian orang hanyalah terjadi di sebuah film saja. Tapi, nyatanya terjadi pada kami.
Semenjak itu, kami sering bertemu secara kebetulan. Entah di foodcourt hingga di masjid. Rupanya, lokasi kantor kami berada dalam satu area perkantoran yang sama. Dan yang menghubungkannya adalah taman kota yang sama-sama kami kunjungi pertama kali saat itu.
Kami pun mulai berkomunikasi melalui chat. Dan menemukan bahwa kami cocok satu sama lain.
Bagaikan sebuah takdir. Akhirnya kami menjalin hubungan ke arah yang lebih serius dari sekedar menjadi seorang teman. Kami ingin menikah.
Semua yang mengenal kami, sahabat, teman kantor, bahkan para atasan kami ikut berbahagia mendengarnya. Mereka semua sangat mendukung, terlebih mereka tahu bagaimana awal mula pertemuan kami yang bagai mimpi.
Namun, tidak dengan kedua orang tuaku. Mereka tidak pernah setuju akan hubungan kami. Dan sikap mereka makin menjadi, ketika ia memberanikan diri datang ke rumah untuk melamarku.
Dengan paksa mereka memisahkan kami berdua. Orang tuaku mengatur sedemikian rupa agar aku dapat dipindahkan bekerja di cabang yang berbeda. Nomor ponsel yang kugunakan kini berbeda. Dan aku sama sekali tidak bisa menghubunginya, nomornya sudah tidak aktif lagi.
Aku tidak bisa sembarangan pergi, hanya seputar rumah dan kantor karena mereka sekarang memberikan fasilitas supir untuk mengantar dan menjemputku.
Bagaimana mereka bisa begitu tega pada kami? Padaku?


Nak. Suara seorang wanita tua membuyarkan lamunanku. Ah, rupanya nenek itu. Kenapa menangis?
Spontan kuusap air mata yang turun dikedua pipiku.
Tidak apa, nek. Lalu aku mengengok ke kanan dan kiri. Sudah 3 bulan aku tidak pernah ke taman ini, banyak yang telah berubah. Lho, kakek mana?
Nenek tersenyum pada seseorang di belakang kami. Dan, aku melihatnya. Ia sedang menggandeng tangan kakek. Mendekat ke arah kami. Segera aku berlari lalu menangis dipelukannya. Ia pun menangis.
Aku selalu menunggumu disini. Selalu.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *