Pertukaran (17+)

oleh Rafya

T: @opiloph

Melalui puisi itu, Sarah membiarkan Rahmat menggerayangi tubuh mudanya yang ranum, yang mekar seindah kelopak bunga. Dia merasakan kulit Rahmat menyentuh kulitnya dan kehangatannya yang kental menyatu dalam tubuhnya. Seperti ada ribuan korek api dalam jantungnya yang meledak serentak—mengobarkan gairah yang memadamkan otak. Dia tidak tahu mantra apa yang bersemayam dalam hubungan mereka—begitu ganjil, begitu indah. Tapi dia bersyukur karena, hanya dengan cara itulah, dia dan kekasihnya, Rahmat, dapat bertemu. 

Apa boleh buat, cinta mereka yang membara terhalang ikatan darah. Rahmat adalah putra ayah Sarah dari pernikahan terdahulu. Jarak usia Sarah dan kakak tirinya hanya empat tahun. Keduanya berkenalan saat bertemu di sebuah hotel untuk keperluan bisnis, dan tanpa dapat dicegah, jatuh cinta pada pandangan pertama. Hubungan mereka berjalan mulus hingga darah itu tersingkap. Akhirnya, sentuhan yang dipenuhi gairah itu hanya menyisakan surat dan puisi yang penuh nafsu-nafsi kerinduan. 

Tetapi, seperti ada pertukaran yang aneh, semacam sihir, dalam puisi-puisi Rahmat. Melalui bait-baitnya yang berkelindan rapi, dia bagai mampu mengirim tubuhnya untuk menyentuh tubuh Sarah. Dia menjulurkan lidahnya untuk menjilat seluruh warna yang ditawarkan kekasihnya. Jari-jarinya mencecap kulit dara yang halus dan lembap itu. Puting payudaranya yang merah muda mengeras saat lidah basah Rahmat dan napasnya yang panas menyentuh bulu-bulu pubiknya. Perlahan-lahan, daging itu pun memasuki liang senggama yang kuyup menunggu. Mereka bersetubuh, berkali-kali, dalam jarak yang berjauhan, tapi lebih dekat dari nadi. Lama sesudahnya, keduanya orgasme, melenguh lirih tertahan. Tapi hasrat seolah tak pernah terpuaskan. Selalu mengharap lebih.

Tanpa mereka sadari, ada orang ketiga yang menerima ‘pertukaran’ itu. Dialah Rendi, adik Rahmat, yang kebingungan menghadapi panas tubuhnya sendiri. Bagaimanapun, berahi baru sepenuhnya padam setelah badan bertemu badan, bukan hubungan psikis semata. Dorongan nafsu yang membara harus disalurkan dan kepada Rendi-lah, berah itu menuntut dilunaskan. Rendi kebingungan saat dadanya tiba-tiba sakit, disengat bara yang membakar, dan menghanguskan. Bagai dahaga yang memohon segelas air, dia belingsatan. Dia mencari bir dingin, siapa tahu bisa meredakan pikirannya sendiri. Tapi percuma, sekalipun berkaleng-kaleng telah membanjiri lambungnya, kepalanya justru semakin berat. Dia berguling-guling tak keruan di atas ranjang, berkali-kali masturbasi dengan percuma. Pemuda itu tidak bisa berhenti membayangkan Juan dan ototnya yang kering, yang kumis tipisnya membingkai senyumnya yang manis. Dia menginginkan lelaki itu memasuki tubuhnya. Sekali. Berulang kali.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *