Angin Mati (Bagian 2)

oleh Rafya

T: @opiloph

Hasan menatap jembatan, begitupun perempuan di sampingnya. Mereka memandang makam-makam yang mengisi sisi seberang, yang nisan-nisannya retak dan hancur. Banyak kuburan sudah menjadi puing-puing dan selamanya tak lagi dikenali.

Tanpa perlu sembunyi, hantu-hantu yang tubuhnya berpendar hijau-pucat melayang bagai menagih janji merdeka—dari kehidupan yang terlampau menyedihkan—dari takdir yang tak kunjung terselesaikan. Tak ada satu pun yang tubuhnya lengkap. Tak berlengan, tak berkepala, tak berkaki, tak bermata. Hasan masih ingin menahan hening yang melingkupinya, sebab dia takut berkata-kata, tapi Nur mendesak diri bicara, “Tuan—“

Lelaki menghardiknya, pilu, “Kenapa kau bicara begini resmi, Nur? Kenapa tak kaupanggil namaku seperti dulu?”

Nur tersenyum. Tapi senyumnya membuat perasaannya bertambah getir.

“Sudah tidak bisa, Tuan. Sudah terlampau lama. Berapa lama kiranya? Tentu Tuan ingat.”

“Tujuh tahun, Nur,” Hasan menjawab, sekenanya. “Enam tahun lebih, pastinya. Entahlah!”

“Sudah lama sekali, bukan? Tentulah banyak yang berubah. Ais sudah besar sekarang. Ia sudah harus masuk SD. Saya pun bertambah tua, sudah empat puluh kiranya.”

Hasan menatapnya pilu dan membisu, tapi dia memberanikan bertanya, “Bahagiakah kau, Nur?”

Di antara mereka, udara bertambah dingin dan angin membawa hawa pegunungan yang menusuk dengan cakar-cakarnya yang beku. Kabut putih melayang dari napas mereka. Hasan mengepalkan telapak tangannya, yang gigil dan kebas. Alangkah bahagia, andai dia mendapati diri telah mati, ketimbang harus bertahan di sini. Sedikit banyak dia menyesal telah datang. Karena dia tahu, dia tak seharusnya pulang.

Nur membuka mulutnya dan tertawa, tapi Hasan mampu mendengar sindiran sinis dalam gelak itu.

“Bahagia?” tanya Nur. “Dengan kondisi saya yang begini?”

Hasan memandang kaki kanannya yang tak berjari, lalu ruang hampa yang harusnya diisi kaki kirinya, yang kini hanya sebatas lutut. Tangan kirinya pun buntung, tinggal tersisa lengan yang berujung bulat, tanpa jari. Dan matanya, mata kirinya yang dulu cantik, tak memiliki titik hitam lagi. Hanya tangan kanannya yang masih utuh—itu pun tersisa tiga jari saja, dan mata kanannya. Namun mata itu pun cacat karena kehilangan kelincahannya. Dia tak lagi memiliki pendar—yang Hasan maksud dengan “bahagia”.

“Perang telah mengambil segala milik saya. Termasuk Tuan.”

Hasan hanya diam mendengarnya bicara, tidak tahu harus menjawab apa. Tapi Nur tak jua melanjutkan kata-katanya—membuat keheningan mengambil alih dengan jubahnya yang hitam. Lalu segalanya membeku bersama angin yang mati.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *