Angin Mati (Bagian 3)

oleh Rafya

T: @opiloph

“Tapi kini, Tuan pulang. Hanya saja telah beristri, dan beranak pula. Berapa anak Tuan, kiranya?”

Hasan menjawab ragu-ragu, “Tiga, Nur.”

Di luar, gemerisik daun dipukul angin, terpendam, lalu teredam, kemudian lenyap. Ranting-ranting bergesekan dikacaukan sayap burung-burung—terbang melintas di atas hantu-hantu yang kehilangan makna keberadaan.

“Tiga,” Nur berbisik, lebih pada dirinya sendiri.

“Maukah Tuan memegang tangan saya?” katanya lagi.

Hasan menyentuh tangan kanan perempuan itu. Saat menangkup tiga jari Nur yang tersisa, dadanya sesak tersayat-sayat, seperti di medan peperangan, saat satu persatu temannya tertembak dan dia mulai bertanya, kepada siapa dia berjuang? Kenapa harus berkorban untuk sesuatu yang membuatnya begitu banyak kehilangan?

“Tuan ingat bertahun-tahun lalu? Kita masih remaja. Duduk di kelas yang sama. Tuan menyatakan cinta pada saya dan saya menerima cinta Tuan tanpa pikir panjang. Saya pasti perempuan paling bahagia. Tuan, sebagai satu-satunya yang saya percaya setelah orang tua saya meninggal di medan perang, ternyata menyimpan perasaan untuk saya.”

Hasan masih menggenggam tangannya. Ketiga jarinya diremasnya lembut.

“Aku ingat, Nur. Aku bahkan masih mencintaimu, sampai sekarang pun.”

Namun, Nur melepaskan tangannya. Di samping Hasan, dia berjalan dan berusaha mendului dengan langkahnya yang patah. Napasnya terengah-engah menahan lelah—pun isak yang sialan. Meskipun udara begitu dingin menusuk, dan gerimis mulai gugur, pelipisnya dipenuhi keringat. Hasan mengalah dan membiarkan Nur berjalan beberapa langkah di depan.

“Tidak, Tuan. Tuan tidak mencintai saya. Seandainya ada perasaan tulus dalam hati Tuan, itu bukan cinta. Hanya kasihan. Pria hanya memandang fisik dalam mencintai. Tentulah Tuan malu andaikan memperistri seorang cacat seperti saya,” katanya.

“Cinta tak kenal malu. Bahkan dalam ketelanjangan. Bahkan dalam kecacatan,” jawab Hasan.

“Tidak. Tapi seandainya hanya kasihan pun, itu cukup,” Nur berkata, lirih.

Lama Hasan menunggunya bicara lagi. Tapi hanya kabut dingin yang menebal di antara mereka. Hasan terkejut saat mendengar Nur mengerang, lalu perlahan mengencangkan sandaran tongkatnya pada ketiak. Suaranya terdengar pilu dan terbata-bata. Hasan mengikutinya dari belakang. Dia tahu perempuan itu akan menangis.

Bagaimana dia harus menjelaskan bahwa setelah tahun-tahun yang berlalu, dia mengira Nur telah tiada, begitupun anak yang dikandungnya? Bagaimana dia harus mengatakan, dia salah mengenali mayat seseorang yang tak jelas asal-usulnya sebagai perempuan yang begitu dicintainya? Haruskah Nur tahu alasannya tak lagi kembali ke kota ini adalah karena kesedihannya yang mendalam?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *