Angin Mati (Bagian 4)

oleh Rafya

@opiloph

“Nur, kau tak apa?” Hasan merangkul pundaknya. Tapi dia menepisnya.

“Tuan sudah beristri. Anak Tuan sudah tiga. Ingatlah itu, saya mohon!” hardik Nur, matanya memandangku tajam. “Jangan mengotori tangan Tuan yang sudah kotor itu. Saya bukan lagi istri Tuan.”

“Tapi aku mencintaimu, Nur! Hanya kau seorang. Lain tidak,” kata Hasan. “Tolong percaya aku. Kau tak ingin membuatku sedih, bukan? Kita bisa menjalani ini sembunyi-sembunyi. Aku akan membesarkan Ais dan memberimu uang. Aku tahu kondisimu. Aku sudah jadi orang di kota. Aku mampu membiayai hidupmu, membelikanmu rumah, memenuhi segala kebutuhanmu. Tolong, aku sedih melihat keadaanmu, Nur. Kau layak mendapatkan kehidupan yang baik dan aku bisa memberikannya. Tak perlu ada yang tahu. Aku yakin, takkan ada yang curiga.”

“Sedih? Tentu Tuan bersedih melihat kondisi saya. Tapi Tuan tak berhak mencampuri urusan saya. Setelah apa yang Tuan lakukan terhadap saya, dan Ais,” lalu Hasan hanya mendengar suara isak.

“Nur.”

Hasan menatap matanya yang merah karena tangis, lalu menyadari kebencian yang terpendam di sana. Maka tahulah dia, panggilan “Tuan” yang Nur tujukan padanya bukanlah formalitas seperti yang dia katakan, namun ejekan. Hinaan. Usiran. Nur mengapit tongkatnya, dan menyandarkan tubuhnya di tiang lampu yang sudah berkarat, lalu merogoh kantungnya, dan menyerahkan sebuah amplop tebal pada Hasan.

“Ambillah, Tuan. Dan jangan kirimi kami uang lagi. Dan jangan pernah menjenguk Ais. Biarkan dia mengira ayahnya sudah mati,” ungkapnya. “Saya telah merawat dan membesarkannya sejak lahir dan dia baik-baik saja tanpa Tuan.”

“Tapi bagaimana kau hidup, Nur? Bagaimana Ais dapat makan?” Hasan memaksa.

“Bukan urusan Tuan bagaimana saya hidup. Asal Tuan tahu, tubuh saya cacat, namun otak saya masih berfungsi sempurna.”

“Tapi, Nur, terimalah,” Hasan menyerahkan amplop itu. Tapi Nur menafiknya keras. Bungkusan kertas yang tebal itu tergeletak begitu saja di atas tanah. Amplop yang tadinya berwarna coklat muda mulai dicemari titik-titik hujan.

“Saya tak mau berutang pada Tuan, apalagi bergantung,” tukasnya.

“Tapi saya tulus, Nur,” Hasan menghampirinya.

“Tidak, Tuan. Tuan tahu itu,” Nur menepis tangannya, sinis. “Kau hanya ingin membayar kesalahan kau, seolah-olah dengan uang, dosa kau bisa lunas. Benar, kan?”

Hasan membeku. Tangannya mengepal.

“Setidaknya berikanlah pada Ais, biar dia sendiri yang menentukan akan dipakai untuk apa uang itu,” dia mengambil bungkusan itu dan memaksa Nur membawanya.

Tapi Nur tetap menolaknya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *