Angin Mati (Bagian 5)

oleh Rafya

T: @opiloph

“Seandainya kau datang tanpa memakai seragam, saya mungkin lemah di hadapan kau. Seandainya yang berdiri di hadapan saya ialah Arif. Arif Rahmat yang dulu saya kenal, bukan tentara yang telah menghancurkan hidup saya dan hidup banyak orang di desa ini, tentulah saya mau menerima kau kembali. Tapi tidak. Saya tak ingin menerima uang dari seseorang yang tahunya hanya menghancurkan; saya tak mau mengenal pria yang bahkan tak mampu memegang janjinya pada seseorang yang dicintainnya.”

“Maaf, Nur. Maaf,” Hasan nyaris terisak.

“Saya tak perlu memaafkan kau,” katanya. “Saya tak menaruh dendam pada kau, tapi saya sedih karena harus kehilangan sahabat yang saya harapkan menjadi sandaran di sisa usia, seorang kekasih! Tapi yang saya dapati malah lelaki munafik yang gemar menjilat ludah sendiri. Tolong pergilah dan jangan kembali lagi.”

Hasan ingin bicara, tapi Nur tak memberinya kesempatan.

“Juga, tolong jangan sok tahu. Kondisi saya memang menyedihkan—buat kau. Tapi hidup saya tidak perlu kaukhawatirkan. Saya masih punya otak yang tidak cacat, yang masih peka dipakai bekerja. Kau juga jangan senang dulu dengan kondisi kau saat ini. Ada banyak yang harus kaucemaskan. Tunggu saja. Jadi, jangan wagu. Selamat tinggal!”

Hasan diam saat melihat punggung Nur menjauh. Dia tak mengejarnya meskipun ingin, tak pula menanyakan apakah dapat bertemu kembali. Dia tak berani mengharapkan apa-apa lagi. Hasan mengambil rokok, menyalakannya, dan menghisapnya dengan nikmat.

Udara kian dingin dan menusuk. Angin masih berembus kencang, lalu berubah masai, tak jelas arahnya, memaksa bangunan-bangunan reyot berbunyi bagai engsel kering dan bisa runtuh kapan saja. Gerimis perlahan-lahan berubah menjadi hujan.

Hasan masih mendengar suara besi dipukul, gemerisik daun merintih saat tangan-tangan udara meraih, hantu-hantu masa lalu yang mengikuti langkahnya, dan pemandangan yang semakin samar begitu kakinya menjauhi tiang lampu. Tangannya meremas seonggok uang yang dengan malu dibawanya pulang. Dia masih memerhatikan Nur dengan mata penuh kebencian karena harga dirinya terluka.

Namun, perempuan itu melangkah cepat tanpa menoleh sekali pun. Langkahnya begitu tegas meski hanya mengandalkan satu kaki. Hasan terkejut saat mendapati Nur berjalan menuju sedan merah yang entah kapan diparkir di ujung gang. Model teranyar. Sopirnya yang sedari tadi menunggu di belakang kemudi, turun, dan membukakan pintu kepada nyonyanya yang cantik. Lampu depan menyala dan mereka bergegas meninggalkan Hasan yang masih terpaku tak percaya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *