Di Tepi Parangkusumo

oleh Siwigustin

IG: @siwigustin

Angin pagi Pantai Parangkusumo memporak-porandakan rambutku yang baru saja ku smoothing. Sesekali ombak kecil menyentuh kedua kakiku yang berdiri di samping seorang lelaki yang sedang menggulung celana setinggi lutut dan menaikkan lengan panjangnya setinggi siku.

“Kau menyewa losmen di sini?” tanyaku dengan menyilangkan kedua tangan.

“Tidak. Hari ini aku hanya ingin mengajakmu ke pantai.” Jawabnya santai.

“Kau sedang ada ritual mandi di sini? Kau mau pasang susuk? Iya?” tanyaku menyeringai.

Ia tertawa, “tentu saja tidak. Aku bukan orang yang percaya ritual seperti itu. Apa jangan-jangan kau pernah pasang susuk di sini?” pertanyaannya seolah balik menyelidikiku.

“Sayangnya wajah dan tubuhku masih laku di pasaran. Jadi aku tidak berminat pasang susuk. Buktinya kau masih memesanku, tapi jika kau tidak percaya, ya, terserah.” Jawabku dengan percaya diri sambil memainkan air yang menyentuh kakiku.

“Aku percaya.” Sahutnya lalu mengajakku berjalan menyusuri pinggir pantai.

“Jangan pernah percaya pada PSK, Bosku.” Ucapku sambil mengikuti langkahnya. “Lalu hari ini kita akan bercinta di mana?”

“No sex, Today.” Jawabnya dengan menatapku.

Aku mengernyitkan dahi. Sejujurnya jawaban itu melegakan sekali bagiku.

“No sex and I’ll pay you. Aku hanya butuh ngobrol saja.” Pradipta melanjutkan kata-katanya.

Tiba-tiba ia menggenggam tanganku. Sedangkan aku kemudian sibuk menoleh ke sekeliling, memastikan tidak banyak orang yang memperhatikan kami.

“Berhentilah menoleh ke kiri dan ke kanan. Mereka tidak akan memperhatikan kita.”

“Kau tidak takut menggenggam tanganku di depan umum?” tanyaku keheranan. Biasanya para tamu yang memesan kami justru akan mencari tempat terbaik untuk bersembunyi.

Ia menggeleng dan tersenyum padaku. Senyumnya memang selalu meluluhkanku. Jantungku yang tak pernah berdebar ketika melayani tamu justru tak berdaya di dekatnya. Sejak pertemuan pertama kami, ia seolah sudah membeli seluruh perasaanku.

Namun semua perasaan itu masih harus kusembunyikan darinya. Aku ingin memastikan ia memang berbeda dari laki-laki lain. Aku berharap kali ini aku tidak melayani seorang lelaki beristri. Sungguh melelahkan dan memuakkan jika lelaki yang membayarku telah berkeluarga. Rasanya aku semakin menjadi perempuan yang tak pernah jadi nomor satu.

“Sekar, apa kau tidak lelah hidup seperti ini?”

Dahiku mengernyit lagi, semakin heran dengan pertanyaan yang ia tanyakan. “Kau ini ada-ada saja. Kurasa tidak ada perempuan yang bercita-cita jadi pelacur.”

“Aku ingin memilikimu seutuhnya.”

Ada kelegaan yang mengaliri napasku. Seolah ada angin segar yang menyapa hidupku.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *