Nikmat Sehat

oleh Merlinda Yuanika

T: @d3k_linda | IG: @d3k_nda

Tak perlu iri dengan rezeki orang lain, kamu tidak tahu apa yang telah Allah ambil darinya.

Pesan yang disampaikan dari kutipan itu seperti membuat setiap orang manggut-manggut. Aku merasa kutipan itu juga tertuju kepadaku. Bagaimana tidak? Beberapa hari ini aku merasa tidak terima dengan seorang kawan sekantor yang mendapat promosi sangat cepat. Dia baru masuk dua minggu dan langsung naik jabatan, gaji dan tunjangan berlimpah. Itu membuat iri semua orang, termasuk aku, penuh pertanyaan, kenapa secepat itu, proyek besar macam apa yang dia kerjakan?

“Intan, ke ruangan saya sekarang,”
“Iya, Pak.” Perintah sambungan via telepon mengudara. Padahal aku mau ke toilet sebentar tetapi gagal.

Dalam ruangan pimpinan utama aku mendengar cerita bahwa Fatia itu diberikan promosi jabatan karena memang kinerjanya bagus. Dia juga memiliki kesulitan ekonomi. Dia melakukan pengobatan untuk penyakitnya yang dia derita hampir dua tahun. Aku mengangguk, tidak konsentrasi tetapi masih penasaran ada apa dengan Fatia si anak baru yang sedang ramai dibicarakan.

“Fatia itu terkena gangguan saluran kemih,”
“Apa, Pak?”
“Dia sulit sekali kencing dan BAB, kemihnya yang bermasalah hingga komplikasi kemana-mana,”
“Tapi kerjanya bagus, Pak,”
“Iya kamu benar, kamu pasti iri dia baru masuk langsung naik jabatan, saya sudah konsultasi ke beberapa pimpinan lain bahwa itu tidak salah. Dia berprestasi, pekerja keras,”

Aku membuang nafas keras ketika berhasil keluar dari ruang pimpinanku. Akhirnya, aku berlari berusaha meletakkan dokumen-dokumen dari pimpinan di atas mejaku. Aku sempoyongan lari mencari sebuah kamar bertulis toilet.

“Intan, tolong bawa ini,”
“Tapi, Pak.” Intan tidak punya nyali menolak perintah kepala bagiannya.

“Intan, ada kiriman paket,”
“Oh iya tolong bawa dan letakkan di mejaku,”
“Toilet? Rusak, harus ke lantai dua soalnya di lantai tiga antri juga soalnya yang satu juga rusak,”
“Apa? Ya Rabb,” Aku berlari mencari lift dan segera turun.
“Intan, nanti makan siang sama-sama, ya?”
“Aaahh,” aku tersenyum memandang Juna yang memintaku makan siang bersama. Aku hanya nyengir melihatnya.

“Aaahhhh… legaaaaa,” Aku keluar toilet dengan perasaan lega tidak lagi menahan sesuatu yang sudah mau runtuh rasanya.
“Rusak, ya, toilet di lantai empat?” tanya Dewi yang bekerja di lantai dua.
Aku merapikan pakaianku dan menarik nafas lega, benar, aku beruntung masih mudah untuk buang air kecil atau besar. Aku bersyukur diberikan rezeki sehat yang tidak ternilai harganya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *