Pagi yang Tawar

oleh Siwigustin

IG: @siwigustin

Aku melirik lelaki berbahu bidang yang duduk di sampingku. Ia nampak sibuk meniup-niup teh panas yang baru saja kuseduh untuknya.

“Bagaimana tidurmu semalam?” tanya lelaki yang bahunya sedang memikul beban kesedihanku.

“Tidak nyenyak. Semalam aku mimpi jadi pengantin.”

“Mimpi jadi pengantin?” tanyanya sambil mengerutkan dahi.

Aku mengangguk, “paes ageng membuat wajahku terlihat sempurna.”

“Lantas? Apa terlihat jelas itu wajahmu? Ap–”

“Kenapa, Mas? Tenanglah, ini hanya mimpi biasa.”

“Kata orang, kalau mimpi jadi pengantin, kita akan–”

“Meninggal? Itu hanya mitos, Mas. Lagi pula, semua orang pasti akan–”

“Sekar.” Jemari Mas Sapto tiba-tiba sudah menggenggam jemariku. Namun beberapa detik kemudian genggaman hangat itu kulepas. Aku tak sanggup jika harus merasakan hangat sentuhannya. Aku mungkin tak akan sanggup melepaskannya jika terus menerus melambungkan harapan bersamanya. Aku harus tahu diri dan tidak boleh semakin jatuh hati padanya.

“Bagaimana teh buatanku pagi ini, Mas?” Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Seperti biasa.” Jawabnya singkat sambil menyandarkan punggung ke kursi.

“Hanya itu? Tak ada yang lain?”

“Iya, rasanya masih sama. Tawar.”

“Seperti kita?” tanyaku sambil melirik cangkir teh yang berada di atas meja.

“Entahlah. Ak–”

“Aku ingin kita berhenti di sini, Mas.” Kataku sambil menatap matanya. Ku kerahkan seluruh keberanianku untuk mengakhiri hubungan kami.

“Aku akan kembali meyakinkan Abi dan Umi. Aku–”

“Aku mencintaimu dan tidak ingin kau menjadi anak durhaka. Setiap orangtua pasti ingin anak lelakinya berdampingan dengan perempuan yang pantas.”

“Apa manusia yang memutuskan pantas atau tidaknya seseorang untuk dinikahi?”

Aku menundukkan kepala mendengar pertanyaan Mas Sapto. Sehina-hinanya aku, aku memang tidak pernah menghina orang lain. Aku pun tidak pernah merasa diriku begitu suci karena memang tempatku berasal sama sekali tak mengenal kesucian.

“Ini memang menyakitkan, Mas. Aku bahkan merasa kisah cintaku ini terlalu menyedihkan untuk diingat. Namun ini kenyataan yang tidak hanya bisa dipupus dengan teori belaka. Sedari awal aku tahu bahwa tidak mungkin seorang mantan pelacur menikah dengan putra seorang kyai.”

“Saat pertama kali aku melihatmu salat di Masjid Menara, aku sudah siap menerima semua resikonya. Aku belum pernah mendengar ayat yang menyebutkan seorang pendosa yang bertobat dilarang beribadah.”

Hujan kembali turun pagi ini. Aku hanya ingin lari dan menghilang di telan hujan. Berharap dosaku luruh disambar kilat dan hidupku tak lagi terasa berat.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *