Untitled

oleh Taufan Sulaeman

T: @KataTaufan | IG: @KataTaufan

Perasaan ini, sudah lama aku lupa apa namanya. Yang pasti, air mataku kini, sudah terlanjur kering. Setelah berkali menangis, bak sungai yang membanjir karena sampah menumpuk di muara bibir laut, hati pun menjadi kemarau.

Hatiku masih belum jua beranjak darimu. Kau pergi dalam usia yang masih terlalu muda. Terlalu banyak kemungkinan hidup yang belum sempat kau jalani. Dan rasa yang terlanjur tumbuh diantara kita, masih belum juga dapat kupastikan kemutualannya. Yang aku ingat, setiap malam panjang yang kuhabiskan, menemanimu di kamar rumah sakit dulu, meskipun harus tidur tepat di bawah kasurmu.

Nenek selalu menyiapkan serantang masakan rumahan, karena kau tak pernah suka rasa makanan di rumah sakit. Rantangan cukup untuk kamu dan ibumu, yang merawatmu penuh kasih sayang, senantiasa berada di sisimu. Sedangkan aku lebih memilih menghabiskan jatah makananmu dari rumah sakit. Sampai sekarang, makanan rumah sakit adalah salah satu kuliner kesukaanku. Menyedihkan memang, jika seseorang yang sehat begitu menggemari sebuah cita rasa, yang menurut beberapa dari sebagian orang, cenderung tawar dan tidak berasa.

Hal ini membuatku bertanya dalam hati, apakah benar selera makanku, sebegitunya. Kalau aku kembali ke masa kecilku dulu, pada usia sekitar balita, aku sudah terbiasa mengolah makanan sendiri. Meskipun hanya merebus mie instan, tapi bagi seorang aku yang masih balita, itu adalah hal yang melampaui capaian tumbuh kembangku, mungkin boleh jadi malah masuk kategori luar biasa.

“Bila memang ku yang harus mengerti. Mengapa cintamu tak dapat kumiliki. Salahkah ku bila. Kaulah yang ada di hatiku,” kunyanyikan perlahan salah satu tembang lawas grup musik ternama negeri, dalam hati.

Hampir sedekade sejak kepergianmu, Nenek pun menyusul pulang ke rumah Tuhan setelah kepergianmu. Aku masih betah di kampus, dan bahkan tak datang ke pemakaman Nenek saat itu. Kesedihanku ditinggalkan anggota keluarga besar tak berhenti di kalian berdua. Menjelang tahun terakhirku di kampus, aku masih harus menutupi kesedihanku karena ditinggal mati oleh Bapak.

Jangan bersedih, kata kitab suci. Tak terkecuali, begitupun dengan beberapa buku, tulisan para ahli agama, bahkan motivasi diri. Kesedihan begitu mahal harganya bagiku. Bahkan, pada beberapa waktu, di saat aku seharusnya tenggelam, oleh lautan air mata membanjiri muara sudut pandangku, hanyalah kemarau selalu setia menanti disana. Mungkin jiwaku terlalu hampa untuk merasakan semua itu. Mungkin aku hanya tak dapat memilikimu lagi.

Selamanya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *