Dari Bibirnya yang Menghilang

oleh Siwigustin

IG: @siwigustin

Rasa sakitnya semakin dalam. Rahendra terlalu lama memelihara luka yang Ajeng tinggalkan. Ia hanya mampu melampiaskan segalanya pada Laksmi–perempuan yang sudah lama tergila-gila padanya.

Rahendra menghabiskan hari-harinya di sanggar lukis miliknya. Kedua tangannya hanya berhenti melukis ketika lapar dan mengantuk. Tidak seperti kebanyakan pelukis yang melukis dengan cat dan kuas, ia mewarnai kanvasnya dengan lipstik.

Ketertarikannya itu berawal ketika ia memperhatikan Ajeng yang memulas bibirnya. Ada gairah yang mengalir di nadinya. Ia seolah mendapatkan inspirasi yang sangat berharga. Sejak itulah, ia sangat terobsesi untuk melukis di atas kulit tubuh Ajeng.

Keinginan Rahendra yang semakin menggila itu membuatnya kehilangan Ajeng. Kekasihnya itu menolak mentah-mentah keinginan Rahendra untuk menciptakan sebuah karya di atas tubuhnya. Sedangkan Rahendra berpikir itu sesuatu yang eksklusif dan mahal harganya.

Namun kepergian Ajeng tidak membuat Rahendra menghentikan obsesinya. Ia kemudian merayu Laksmi, perempuan yang sangat ingin menjadi kekasihnya. Ia memanfaatkan perasaan perempuan itu untuk mewujudkan karyanya. Rahendra pun tak butuh waktu lama untuk membujuk Laksmi. Perempuan itu pun setuju untuk menggelar sebuah pagelaran di sanggar menggunakan tubuhnya sebagai media lukis.

Hari yang ditunggu Rahendra tiba. Tamu undangan yang tidak lebih dari dua puluh orang telah datang. Mereka terdiri dari pelukis, penikmat seni dan wartawan. Hari itu, Laksmi pun telah duduk dengan begitu anggun dan hanya mengenakan dress lingerie putih.

Pelukis penganut aliran absurd itu mulai menyentuh tubuh laksmi dengan lisptik Make Over tipe 001 Lavish. Jari-jari kaki Laksmi menjadi titik awal karya Rahendra. Di sela-sela melukis, laki-laki itu pun mengajak media lukisnya–Laksmi mengobrol.

“Kau tidak menyesal, kan?” tanya Rahendra sambil memulas paha mulus perempuan itu dengan warna lipstik keunguan.

“Bisa menjadi karya yang kau banggakan membuatku merasa jadi spesial, Ndra.”

“Aku hanya bisa menyetubuhimu dengan cara ini.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak akan mungkin bisa bercinta dengan perempuan lain selain Ajeng. Ia telah membawa serta semua gairahku. Hanya keinginan ini yang masih membuncah dan harus ku wujudkan.”

“Apa aku hanya sebatas media lukismu saja?”Rahendra hanya terdiam. Ia hampir menyelesaikan karyanya.

“Teman-teman sekalian, inilah karya terakhirku sebagai seorang pelukis yang berjudul Diajeng.”

Semua orang mulai berbisik-bisik. Tidak sehari atau dua hari. Rahendra, Laksmi, dan Diajeng menjadi topik hangat di berbagai media masa. Seorang pelukis mengakhiri hidupnya setelah melahirkan karya di atas tubuh perempuan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *