Hangeul*

oleh Lailiadevi IG: @devitalailia Aku memandangi tulisan merah di kaca. Tulisan yang cukup aneh sebab tidak dapat kubaca. Jika dari pengamatanku: dapat dijelaskan tulisan itu berbentuk kotak, ada juga lingkaran penuh yang kecil, tanda salip yang kehilangan garis datarnya di sebelah kiri, serta angka 2. Sial, sebenarnya ini semua apa sih. Kakak menatapku tajam, pasalnya aku memang berteriak saat memanggilnya. Kakak yang sibuk mengerjakan skripsi terganggu olehku. Bergerak malas mengikuti arah jalanku. Dan sekarang bukti yang hendak aku tunjukkan lenyap begitu saja. Kakak geram, dia membanting pintu kamarku cukup keras. Meninggalkanku begitu saja tanpa sepatah kata pun. Aku menganalisa semua kemungkinan. Siapa yang dengan bebasnya keluar masuk kamarku selain diriku dan suamiku. Siapa yang berani menuliskan sesuatu yang tidak kumengerti di kaca. Seseorang yang punya nyali tinggi tentunya. Dan siapakah orang itu? Aku duduk di pinggiran kasurku, memainkan laptop. Aku yakin tulisan tadi memiliki arti dan berhasil membuatku penasaran tiada henti. Dan aku yakin itu sebuah huruf dari bahasa yang tidak aku mengerti. Aku mulai mencari bahasa dari banyak negara yang memakai aksara. Dari mulai India, Cina, Jepang, dan tujuan terakhirku adalah Korea. “Hangeul?” Tanyaku lirih. Aku memastikan pada setiap hurufnya. Mencoba mencocokkan dan perlahan membacanya. Sedikit terbata, mungkin karena takbiasa. “Sa-sarang-ha-e-yo.. saranghaeyo e-omma?”** Aku mengejanya, tetapi takdapat dipungkiri aku sama sekali tidak tahu artinya. Aku teringat sesuatu, dalam rumah ini yang belajar tata bahasa Korea hanya dia. Suamiku, tetapi orang itu tidak berada di sini. Dia sedang bekerja. Aku melangkahkan kakiku ke meja rias. Aku masih memikirkan tulisan merah itu, kira-kira itu ditulis dengan apa ya.. Limabelas menit kemudian, aku kembali ke kamar dan betapa tercengangnya aku saat melihat tulisan yang sama lagi. Di kaca. Tunggu, aku melihat ada culian benda di kaca. Aku mendekat mengambilnya, padat, lengket, warnanya menempel di kulitku, aku menciumnya. Tunggu.. aroma ini.. “Mama, bagaimana?” Tanya anakku, dia menunjuk kaca yang bertuliskan huruf hangeul. “Aku belajar bersama tante, dan aku menemukan spidol merah yang mungil. Karena tidak ada papan ya aku menulis di kaca. Bagus kan?” Aku lemas saat melihat apa yang dipegang anakku. Lipstik, yang baru aku beli, limited edition. Kini berakhir di kaca, bahkan sebelum kupakai sekalipun. Malang sekali nasibku, aku menabung untuk itu. Tubuhku melorot begitu saja meratapi lipstik naas itu. *huruf Korea **aku menyayangi ibu

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *