Iklan dan Peringatannya

oleh Lailiadevi

IG: @devitalailia

Hari ini aku memperhatikan sebuah spanduk yang terpasang di depan balai desa. Spanduk itu bertuliskan: mari kita wujudkan lingkungan yang sehat. Seketika aku ingin tertawa, mengejek diriku sendiri lebih tepatnya. Sebab seorang kepala desa hendak mengampanyekan cara hidup sehat. Namun di sisi lain dia mengembuskan asap yang bisa mempengaruhi kesehatan anaknya.


Peringatan: merokok dapat membuat jantungmu tidak sehat. Aku membaca tulisan itu di sebuah bungkus rokok yang aku temukan. Bahkan dalam iklan rokok sekalipun, seorang bapak-bapak berkata jika dia kehilangan pita suaranya. Lalu kalau sudah seperti itu mau menyalakan siapa, pabriknya atau manusianya?


Dalam berita di televisi, “petugas menemukan putung rokok selepas memadamkan api di hutan. Dugaan mereka ada seseorang yang ‘tidak sengaja’ membuang putung rokok di sana. Yang mengakibatkan separuh hutan terbakar oleh si jago merah. Dan setelah kejadian itu harimau pun masuk desa. Memorakporandakan apa yang dilihatnya, mulai dari rumah, ladang, sawah, bahkan sampai melukai warga.” Nah, terus bagaimana? Hewan tidak akan mengusik kalau tidak diganggu. Hewan tidak akan membunuh jika tidak dibunuh. Hewan tidak akan menyerang jika kita tidak mencari gara-gara. Cukup. Itu hukum alam, atau hukum caranya balas dendam?


Di puskesmas atau rumah sakit, dapat dipastikan bahwa di sana ada gambar rokok dengan perokoknya. Gambar penyakit-penyakit yang mengerikan. Ia yang terus menggerogoti tubuh pemakainya. Dan bahan-bahan aktif yang terdapat dalam rokok. Jelas sekali bukan, lalu sekarang apa?


Pernah aku mendengar ada seorang lelaki, mungkin usia 20-an. Mendapat pertanyaan dari keponakannya yang masih kecil.


“Om, apa yang kita dapatkan dari mengisap rokok? Padahal kalau dari yang aku lihat, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Lah wong, asap yang diisap pun dikeluarkan lagi.”


Lelaki itu tertawa dan mengelus puncak kepala anak itu. “Coba tanyakan ayahmu, Om rasa dia mengetahuinya.”


Anak itu bergegas menemui ayahnya yang sedang memandikan burung di teras. Selang beberapa menit dia kembali dan menampilkan gigi putihnya. Tersenyum ke arah omnya.


“Kata ayahku, rokok itu rasanya bermacam-macam kayak permen. Berarti rokok itu manis ya, Om?”


“Bisa jadi,”


“Tapi.. kalau rokok manis, kenapa ada tulisan “dilarang merokok” bahkan kata bu guru merokok dapat membunuhmu?”


Aku tidak tahu percakapan mereka selajutnya bagaimana. Sebab aku hanya melihat lelaki itu terdiam cukup lama. Bahkan belum sempat aku mendengarkan jawabannya, sayang aku sudah dipanggil ibu untuk makan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *