Jalan-jalan Sepanjang Malam

oleh Rafya

T: @opiloph

TENTU saja aku sadar bahwa aku sudah mati, dan yang berjalan di sampingku adalah Kematian itu sendiri. Dia tampak berbeda dari yang selama ini kubayangkan. Wajahnya setua pohon-pohon di rimba belantara dan rambutnya dipenuhi uban sehalus gerimis. Badannya kurus, tapi tidak kering. Aku mencari matanya di balik kacamata berbingkai perak yang sudah sedikit berkarat, tapi tidak menemukan apa pun, selain gurat lelah di pelipisnya. Di bibirnya terselip sebatang rokok yang sudah separuh terbakar. Dia tidak banyak bicara dan sepertinya enggan bersuara.

“Aku tak menyangka kau merokok juga,” kataku.

Dia mengambil rokoknya dan memandangnya lama. Akhirnya aku dapat melihat matanya—tua dan bijak. Bukankah dia telah hidup sejak permulaan waktu?

“Entahlah. Menurutmu, bagaimana aku mampu melakoni pekerjaan sesunyi ini tanpa mengisapnya?” dia mengambil sebuah kotak di saku kanannya dan menepuknya lembut sampai sebatang rokok menyembul. “Kau mau?” tawarnya. Aku menolaknya. Tapi dia memaksa. Lalu aku teringat, aku sudah mati, jadi tidak perlu menahan diri. Aku mengambil sebuah dan dia terkekeh pelan. Dia menyalakannya dengan ujung rokoknya. Suara desis terdengar empuk saat aku mengisapnya. Asap putih mengepul kental begitu aku mengembuskannya. Ternyata rasanya lebih nikmat dari yang kuingat.

“Omong-omong, ada warung angkringan di dekat sini. Kopinya enak. Mau mampir?” dia tiba-tiba bicara dan aku mengiyakan saja. Setengah jam berlalu, dan kami dapat melihat tempat yang dia maksud. Sebuah warung tenda dengan lampu oranye menyembul entah dari mana. Kami menyibak tirai merahnya. Tak lama kemudian, seorang pria botak mengantarkan dua cangkir kopi, lengkap dengan pisang gorengnya. Aku menaruh rokok di ujung meja dan menyesap kopiku.

Sekonyong-konyong, bau tanah mulai tercium di udara dan gerimis jatuh ritmis di atas tenda. Cuaca mengubah yang tadinya rintik belaka, menjadi hujan yang deras. Aku mengintip sebentar, di luar halimun memanjat pohon-pohon dan kabut memamah batu-batu. Dingin menjilat-jilat udara. Aku merapatkan jaket dan mengancingkannya.

Lalu, beberapa orang buru-buru memasuki warung sambil menutup kepala dengan tangan dan memesan secangkir kopi, sama seperti kami. Aku tidak tahu, apakah mereka pernah hidup atau tidak, atau mungkin adalah Maut—seperti dia yang saat ini duduk di sampingku. Rekanku menumpahkan kopinya di piring kecil dan meminumnya. Tangannya bergetar saat dia mendekatkannya ke bibir.

Sudah mulai ramai. Mungkin sebentar lagi, asap rokok dan obrolan-obrolan kekal akan memenuhi tempat ini.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *