Ketika Jam Kosong

oleh Lailiadevi

IG: @devitalailia

Pukul sembilan pagi, tidak ada guru di kelas dan semua murid berhamburan sesuka hati mereka. Kecuali empat anak yang masih setia dengan bangku mereka. Bangku paling depan dengan dua murid menghadap ke belakang. Bangku kedua selayaknya murid pada umumnya. Walaupun seperti itu, mereka berempat tetap sibuk dengan pikiran masing-masing.

Ada yang sibuk memainkan jarinya, memperlihatkan kukunya yang sebenarnya baik-baik saja. Adapun yang sibuk mencorat-coret bagian belakang buku tulisnya. Sementara yang lainnya membolak-balik LKS guna menemukan jawaban atas soal yang tengah dikerjakan.

Tiga murid itu seakan tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Yang bahkan tak sedikit pun untuk mendongakkan kepala mereka barang sejenak saja. Mungkin menurut mereka tidak ada hal menarik yang dapat mereka saksikan. Dalam kelas yang hampir kosong ini. Lagi pula kemana para guru itu, meninggalkan murid mereka tanpa keterangan sedikit pun.

Maupun murid yang lain sedang tertidur di bangku-bangku yang ditinggal si empunya keluar. Serta di bangku paling belakang, sedang mengadakan konser dadakan yang para pendengarnya lagi galau-galauan. Mereka sibuk menuliskan isi hati mereka dalam sebuah buku.

Ternyata tanpa disadari oleh mereka, benda yang ramping dan bertinta itu berjasa sekali hari ini. Buktinya bahkan sudah terlihat, walaupun tidak begitu penting, tetapi dapat memunculkan sedikit gairah mereka untuk tetap di kelas.

Mari beralih ke bangku kedua, ada murid yang juga ingin menuangkan keresahannya pada selembar kertas. Namun yang terjadi pulpen itu tidak mau mengeluarkan tintah. Mungkin pegal, sebab dari kemarin pulpennya bekerja tanpa henti. Mencatat apa yang ada di papan tulis, merangkum apa yang diterangkan guru, dan mengerjakan PR yang tiada henti.

Sebal karena pulpen tidak mau menurut, anak itu pun memukul-mukulkan pulpennya pada pinggiran meja. Bisa jadi itu hukuman. Cukup lama anak itu melakukan hal yang sama pada pulpennya. Sampai dimana satu tinda melesat bebas dan mendarat di tangan anak lainnya. Merasa tangannya sedikit basah, dia mendongak dan memeriksa cairan hitam apa yang menimpanya. Setelah beberapa detik dia baru sadar saat satu tinta melayang ke arahnya.

“Leni pulpenmu!” Satu anak berteriak dan berhasil membuat tiga anak mendongak. Anak itu kaget dan melihat pulpennya sudah penuh dengan tinda yang meluber.

Dua murid kesal karena sebagian tintah itu mengenai kerudung mereka. Sebagian yang lain biasa saja sebab kerudungnya baik-baik saja. Kelas akhirnya ramai karena sebuah pulpen.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *