Merayakan Tahun Baru

oleh Rafya

T: @opiloph


BERADA di tempat-tempat baru membuat Arunika selalu ingin membuka buku hariannya dan merangkai puisi. Dia senantiasa menuliskan pengalamannya begitu menjejakkan kaki di kota yang bukan kotanya. Sebelumnya, dia hanya mencatat apa yang dialaminya dalam berlembar-lembar paragraf, tapi puisi ternyata mampu “membekukan” momen-momen yang dia rasakan dengan lebih baik, meski dengan huruf yang lebih sedikit. Awalnya, dia meniru W.S. Rendra di buku Sajak-sajak Sepatu Tua, namun lama kelamaan Arunika menemukan iramanya sendiri. Dia senantiasa menulis sesuatu tentang tempat—bisa kota, kafe, maupun rumah, dan tidak pernah merahasiakannya. Siapa saja boleh membacanya. 


Jika senggang, sesampainya di rumah, dia biasa duduk di depan piano dan mencoba menenun nada yang cocok untuk puisinya. Berbeda dengan genre sastra lain, puisi berasal dari tradisi lisan. Beberapa jenisnya dilafalkan dengan nyanyian—seperti pantun (bahasa daun), syair, maupun sonet. Arunika meyakini, dengan menuliskan musikalisasi, dia telah mengembalikan puisi kepada fitrahnya. Selain dengan piano, dia juga sering merangkai musik dengan instrumen lain, seperti gitar. Dia biasanya duduk di ruang tamu dan memangkunya, berusaha menemukan kunci yang pas untuk sajak hasil buah tangannya. Jika di piano dia biasanya memakai kunci-kunci sederhana, dengan gitar dia selalu tergoda memainkan kunci aug yang cukup jarang dipakai.


Arunika membuka tirai jendela lantai tujuh di sebuah hotel di kota Semarang dan melihat Simpang Lima sudah dipenuhi pengunjung yang hendak merayakan tahun baru. Malam meninggi dan awan tebal menaungi langit. Sedikit gerimis, rupanya, beberapa rintiknya mengembun hening di kaca. Dia tidak suka keramaian, tapi selalu senang menyaksikan kembang api pergantian tahun. 
Tadinya dia ingin merayakannya di puncak gunung, seperti masa remaja dulu, dengan dilatari unggun dan cokelat hangat, bersama Raka dan mungkin pendaki lain. Dia ingin memandang matahari pertama di ketinggian, beralaskan sejuk rerumputan. Namun, rencana itu terpaksa dibatalkan karena cuaca tidak memungkinkan. Tak mengapa, begini pun cukup.


Raka, suaminya, berbaring santai di ranjang seraya membaca novel. Dia memang tidak bisa dipisahkan dari buku, jadi Arunika membiarkannya saja dan memilih membuka buku hariannya sendiri, tapi bukan untuk menulisinya, apalagi mengisinya dengan sajak-sajak baru. Dia hanya ingin mengunjungi kenangan yang sudah tergurat di lembarannya. 


“Lagi apa, Sayang?” tiba-tiba sepasang lengan memeluknya dari belakang. Perempuan itu menyandarkan kepala di bahu suaminya.


“Mencintaimu,” Arunika tersenyum. Keduanya pun berciuman, diterangi riuh kembang api yang bermekaran di jendela. 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *