Obrolan di Meja Makan

oleh Rafya

T: @opiloph

“Sebaiknya kamu juga mengurangi pemakaian tisu, bukan hanya sedotan plastik,” Arunika tiba-tiba berkata lirih saat Raka, suaminya, hendak mengambil selembar tisu setelah mencuci tangan di restoran cepat saji. “Tisu dibuat dari bubur kertas berbahan baku serat kayu. Jadi, untuk memproduksinya, harus ada pohon yang ditebang,” dia menopang dagu dengan mata menerawang sedih. Raka mengurungkan niatnya dan membiarkan tangannya kering dengan sendirinya. Dengan sabar, dia menunggu istrinya melanjutkan kata-katanya.

“Menurut penelitian WWF (World Wildlife Fund), untuk membuat 3,2 juta ton tisu toilet, produsen harus menebang 54 juta pohon,” Arunika mendesah, “Tidak relevan dengan bahasan kita sebelumnya, tapi mereka juga mengatakan, setengah lebih hewan bertulang belakang di dunia telah musnah dan dalam dua puluh lima tahun terakhir, populasi serangga terbang turun tiga perempat dan menghambat proses penyerbukan. Masih ada lagi, 98 persen mamalia adalah hewan ternak, sisanya liar, menunjukkan betapa egoisnya manusia.

“Sebenarnya, kecenderungan kita menyantap daging dan membuang-buang makanan juga berpengaruh buruk pada iklim, bukan hanya ketergantungan kita pada bahan bakar fosil. Kita juga kehabisan waktu. Banyak orang mengira pemanasan global bisa diperbaiki—bahkan disembuhkan, seperti flu yang cukup didiamkan tiga puluh hari agar hilang dengan sendirinya. Tapi tidak. Apa yang sudah rusak nyaris mustahil dikembalikan. Jika es di kutub mencair, butuh ribuan tahun untuk membekukannya lagi.

“Di masa depan, pilihan paling murah dan mungkin yang bisa kita lakukan adalah melepaskan lebih banyak karbon ke angkasa agar panas matahari terhambat, tapi akibatnya udara jadi tidak bisa dihirup karena terlalu beracun. Bayangkan memanaskan mobil di ruang tertutup. Kelak, jika tidak berhati-hati, kita membutuhkan masker hanya untuk berjalan-jalan di luar ruangan. Konon, banyak ilmuwan sudah mengusulkan untuk melepaskan belerang agar Bumi bisa sedikit lebih sejuk.

“Di masa depan yang tidak terlalu jauh, mungkin dua dasawarsa lagi, dengan titik atas tahun 2100, kita dihadapkan pada dua pilihan yang menyerupai buah simalakama—langit cerah tapi panas dan menyebabkan kanker kulit, atau langit penuh polusi tapi menghindarkan kita dari paparan matahari langsung. Dan kita tidak juga sadar. Semalam, ada ‘tweet’ yang berisi keluhan kenapa pohon tidak menumbuhkan uang. Banyak yang me-‘retweet’ dan menyetujuinya. Padahal, pohon sudah bekerja siang malam untuk memproduksi oksigen agar kita dapat bernapas, tapi kita masih meminta lebih.”

Pelayan datang mengantarkan pesanan. Namun, keduanya sudah kehilangan nafsu makan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *