Penulis Paling Berbakat di Dunia

oleh Rafya

T: @opiloph

MY name is Rahmat dan aku penulis yang sangat berbakat. Kalau mau, aku bisa saja menyusun novel yang layak diganjar hadiah Nobel. Sayangnya, tak ada yang percaya. Tunggu saja sampai buku pertamaku terbit, dan kalian—all of you—yang tua dan muda, akan terkesima. Aku yakin pembaca akan mengucap terima kasih sambil mengucurkan air mata haru atas karyaku yang ‘outstanding’. Memukau nalar! Memang, rumah jadi sepi semenjak istriku membawa pulang putri kami satu-satunya ke rumah orang tuanya. Dia pergi sambil marah-marah dan membanting pintu. Kenapa? Kenapa dia tidak mau mengerti? Aku terpaksa ‘resign’ dari my old job untuk fokus menulis. Meski belum ada satu karya pun yang berhasil aku selesaikan in a year, aku tahu pasti I AM very talented. That talent flowed in my blood, mengental dalam dagingku, and I feel it berdenyut so great in my heart. Inspiration! My head is full of inspiration! Aku pasti mampu menyusun masterpiece yang dapat menyelamatkan dunia dari bencana kelaparan.

This morning, hari bersejarah itu tiba! Hari yang telah ditunggu-tunggu para insan dunia! Aku, Rahmat, akan mulai menulis the best book ever. I know I can do this, because I am genius. Aku sudah membeli pulpen yang akan dijual lelang dengan harga miliaran rupiah saat aku terkenal nanti. Soon, I’m sure, benda itu akan dipajang di museum Prancis sebagai Unesco Heritage. Aku juga membeli buku Sidu murah meriah di warung sebelah, dan langsung terenyuh karena terkenang laptop tuaku yang terpaksa digadaikan buat bayar kontrakan, tapi no problem. This is a little deal for my big future. Nah, I almost forgot, untuk berpikir aku butuh kopi. Without coffee, I can’t do anything. Without caffeine, I’m nothing. Sialan, my last coffee sasetan sudah diseduh semalam sambil menghabiskan kuota internet yang akan berakhir masa berlakunya. Aku pun bangkit dan selonjoran di sofa untuk menonton televisi, karena percuma menulis tanpa segelas kopi. Impossible.

No. I AM GENIUS. I don’t need coffee, hanya perlu sedikit memaksakan tubuh untuk duduk in the front of table and write. Bahkan tulisan spontanku layak masuk koran dan dibayar dua kali lipat. Sebelum mulai, aku harus buka Instagram dan Twitter, biar seluruh dunia tahu siapa pemenang Nobel Sastra berikutnya. Oh, hampir lupa, aku harus beli kuota dulu.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *