Pertemuan

oleh Siwigustin

IG: @siwigustin

Tara memegang pipi kanannya yang panas dan perih. Satu tamparan keras mendarat kasar di kulitnya yang terluka. Tara benar-benar merasa pipinya terbakar.

“Seharusnya kaulukai seluruh wajahmu, bukan hanya pipimu saja, Tara!”

Tara hanya menundukan kepala mendengar ibunya naik pitam. Ia tahu persis ibunya yang seorang anggota dewan akan mencabik-cabiknya seperti macan jika Tara melakukan hal yang tidak disukai. Misalnya seperti yang sedang Tara lakukan, melukai wajah yang merupakan aset jual.

“Aku ingin keluar dari ruangan yang Ibu ciptakan. Aku ingin Ibu memberikanku kunci itu.”

“Apa katamu?” Bu Handoyo mendelik, terlihat hampir melayangkan tamparan lagi.

“Aku sudah terkurung bertahun-tahun. Aku lelah, Bu. Aku ingin keluar dari ruangan ini. Tolong biarkan aku bebas, Bu.”

“Perempuan tidak pernah berhak memiliki kunci apa pun, Tara. Ruangan itu sudah ada sejak kau tumbuh di rahimku.”

“Apa darah ningrat yang mengalir di tubuhku ini tidak bisa membuatku bebas, Bu? Apa aku harus puluhan bahkan ratusan kali menikah dengan pria pilihan Ibu? Apa Ibu tidak pernah ingin tahu perasaanku? Aku bukan pelacur, Bu!”

Tangan kanan Bu Handoyo kembali membuat pipi Tara panas, kali ini pipi kirinya. Ia terlihat geram melihat anak perempuannya berbicara dengan nada tinggi.

“Kaupikir kami monster yang akan mencelakaimu? Begitu? Ayahmu adalah pejabat yang tidak ingin keturunannya berhenti hanya padamu. Ia menuntutku agar becus mendidikmu. Ia hanya ingin memiliki cucu, Tara. Apa pernah kami mengenalkan laki-laki bodoh dan kere padamu?”

“Kalian hanya ingin tetap berjaya dengan menjual tubuhku.” Kata Tara lirih sambil menundukkan kepala.

Bu Handoyo terdengar menghela napas. “Jangan pernah mencari kunci yang tidak pernah ada. Jika kunci itu nyata adanya, Ibu pasti tidak akan pernah melahirkanmu.”

Tara memandang ibunya yang melangkah pergi. Ia tak tahu lagi cara yang tepat untuk menghentikan pertemuan demi pertemuan yang direncanakan ibunya. Ia lelah. Letih dengan semua omong kosong pernikahan. Tara tahu persis pernikahan yang tidak didasari dengan perasaan tidak akan berjalan lancar. Jika ia bisa memilih, ia hanya ingin hidup bersama Faisal. Lelaki sederhana yang tidak pernah diterima orangtuanya.

Perempuan tiga puluh dua tahun itu terduduk. Sofa empuk resto tidak membuatnya membaik. Ia justru menyadari ketidakberdayaannya. Apa semua anak harus menuruti orangtuanya? Tara ingin protes.

“Tara?”

Tara menoleh ke arah suara yang menyapanya. Matanya tak berkedip. Lelaki yang menyapanya itu Faisal.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *