Pilot

oleh Taufan Sulaeman

T: @KataTaufan | IG: @KataTaufan

Penerbangan menuju suatu pulau di bentangan Khatulistiwa Nusantara kala itu, berbeda dari yang lainnya. Dengan jet pribadi pemiliknya, sang Pilot mengemudikannya dengan tenang, sanggup menentramkan siapapun penumpangnya. Pesawat itu menukik lembut, memutar halus di atas awan, sebelum akhirnya mendarat di landasan terbang suatu pulau pada bagian Barat Daya salah satu kawasan Timur Indonesia.

Usai kapal udara itu mendarat, turunlah para penumpangnya, satu persatu. Sang Pilot turun paling akhir. Seluruh penumpang, termasuk sang Pilot, melanjutkan perjalanan dengan minibus ke area mess, tak jauh dari landasan pacu. Lalui tambatan dermaga, minibus itu berhenti di halte tak jauh dari ceruk muara pelabuhan. Mess karyawan sudah siap menanti, untuk mereka habiskan penat dan lelah selama di perjalanan menuju ke pulau terpencil itu.

Hampir semuanya serba digital di kawasan tersebut. Seluruh sistematika tanpa kertas itu berkat koneksi satelit parabola dan juga fiber optik yang sudah menjangkau pulau terpencil. Hampir semua tangan sibuk dengan ponsel pintarnya, dan tak jarang yang gandrung dengan tablet di hadapan. Entah itu di kamar mess, dalam kantin, maupun pada area santai, hampir segenap pemukim kawasan tersebut bercengkrama bersama, tetapi tetap sendirian.

Tidak ada pulpen di kawasan itu. Perusahaan pemilik area melarang keras adanya kertas yang berserakan. Semua kegiatan harus dilakukan secara digital, tanpa selembar kertas pun yang boleh digunakan. Dengan dilarangnya keberadaan kertas, maka secara otomatis alat tulis apapun yang terkait dengan penggunaan kertas, juga dilarang. Semua alat tulis dilarang; pensil, pulpen, spidol, dan lain sebagainya.

Sanksi tertangkap basah menggunakan, atau meskipun hanya memiliki pulpen, sama beratnya, atau bahkan cenderung lebih berat, jika dibandingkan dengan ganjaran atas hal serupa untuk narkotika di kawasan tersebut. Aturan ini buta di mata hukum, artinya semua orang yang bekerja di kawasan yang sama harus patuh terhadap pasal ini.

Sang Pilot terbangun dari tidurnya, terjaga pada larutnya lewat tengah malam. Dia tak lagi kembali ke tempat tidurnya, melainkan menuju meja kerja di kamar messnya. Meja itu penuh dengan semua gawai digital terkini, lebih dari satu merek terbaru yang masih tercolok pada tiap pengisi batrenya. Seluruh gawai yang tergeletak manja itu masih dalam keadaan mati, tak satupun hidup, meskipun beberapa di antaranya sudah menunjukkan tanda batre yang penuh.

Ditariknya laci pada meja itu, diambilnya selembar kertas, dan segenggam pulpen bertuliskan merek:

“PILOT”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *