Seperti Puntung yang Jatuh dan Terbawa Angin

oleh Siwigustin

IG: @siwigustin

Tara menekan-nekan rokoknya ke asbak. Ia merasa keadaan tidak pernah memihaknya. Tekanan dan tuntutan dari keluarga membuatnya semakin frustasi. Pikirnya, ia tidak perlu lagi berdiri di pelaminan untuk memuaskan keluarganya, tapi janda yang telah dua kali bercerai itu tetap dipaksa menikah–lagi-lagi dengan lelaki pilihan orangtua.

“Tara, keluarkanlah keberanianmu. Menikah itu tidak hanya tidur seranjang dengan laki-laki. Menikah itu tidak hanya untuk menimbun kekayaan suamimu. Menikah itu tidak melulu untuk meneruskan keturunan. Sudahlah, Tara. Kau tak akan berani melawan. Kau tak akan sanggup hidup dengan label anak durhaka.” Perempuan bertubuh langsing dan tinggi itu bicara pada asbak yang penuh dengan puntung rokok. Membicarakan dirinya sendiri.

Ia telah berjam-jam merokok di dalam ruang kerjanya. Berjam-jam mengumpulkan keberanian untuk menolak perjodohan, tapi gagal.

Tara Wira Atmaja, Sarjana Hukum, Magister Kenotariatan itu merasa karirnya yang mulus tak sejalan dengan kisah hidupnya. Sebagai anak yang memiliki orangtua kaya, ia merasa tak berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Anak semata wayang itu benar-benar menjadi wayang yang harus siap menuruti perintah dalangnya–orangtua.

Pernikahan pertama Tara gagal setelah tiga tahun perjalanan. Mantan suaminya menceraikannya karena ingin menikah dengan perempuan lain. Kepala Cabang salah satu bank swasta itu tidak sabar menunggu kehamilan Tara. Perempuan yang masih belum mencintai suaminya itu dengan senang hati menyambut perpisahan.

Setelah menjanda selama setahun, orangtua Tara kembali mengenalkannya dengan seorang dokter spesialis paru-paru–dokter muda dan kaya. Tidak lama setelah perkenalan itu, Tara pun menerima pinangan lelaki yang dua tahun lebih muda darinya dengan terpaksa. Namun rumah tangganya kembali berujung perpisahan. Lelaki itu tidak bisa menerima Tara yang kepergok merokok diam-diam. Bagi suami kedua Tara, merokok adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. Tara kembali sumringah menerima perpisahan.

Bertahun-tahun Tara merokok. Bertahun-tahun juga ia berusaha melupakan Faisal, lelaki yang ia tinggalkan untuk menuruti orangtuanya. Setelah perpisahan menyakitkan itu, ia mulai berkawan dengan rokok. Ia menikmati setiap embusan asap yang keluar. Seolah ada beban dan rasa sakit yang keluar dari peparunya.

Besok datanglah ke Resto Ibu pukul dua siang. Jangan terlambat.

Tara menghela napas panjang setelah membaca pesan singkat dari ibunya. Dinyalakannya lagi rokok kesekiannya hari ini. Kali ini ia tidak mengisapnya, tapi menekankan bara di ujung rokok ke wajahnya yang halus.

“Kali ini kau akan selamat, Tar!” Katanya menyeringai.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *