Sogok-Menyogok

oleh Adib La Tahzan

T: @TdmAdib | IG: @Adiblatahzan

Angga berangkat ke kampus seperti biasa, menjemput Anita. Sesampainya rumah Anita, Anita heran.

“Baju kamu kok bukan seragam kampus?” tanya Anita.

“Ya Nit, tadi ada kecelakaan. Mana presentasi belum kelar,” jawab Angga sambil menggaruk kepala.

“Kecelakaan bagaimana?”

“Bajuku tiba-tiba ada bekas lipstik,”

“Ciye, lipstik siapa tuh?” canda Anita.

“Ayah kira itu lipstik kamu,” jawab Angga.

“Hah! Kok bisa?”

“Mereka kira kita habis ciuman.”

“Logikanya ciuman itu di bibir, bukan di baju,” terang Anita.

“Iya juga, aku bingung, Nit. Itu lipstik siapa?”

“Ya sudahlah, ayo berangkat ke kampus,” ajak Anita.

Sebenarnya Angga punya pikiran untuk bolos, tetapi karena baru kemarin dia bolos, dia tidak berani bolos lagi. Mau tidak mau Angga berangkat ke kampus bersama Anita.

Sesampainya di kampus, teman-temannya tentu heran melihat baju Angga yang bukan seragam kampus.

“Baju lu mana, Bro?” tanya Ahmad.

“Lu nggak lihat gue pakai baju?” cetus Angga.

“Sabar, Bos. Maksud gue itu baju bukan seragam kampus,” terang Ahmad.

“Tadi katanya kecelakaan,” timpal Anita.

“Serius? Lu kecelakaan di mana?” sahut Anam.

“Enggak kecelakaan yang jatuh kali, tapi tadi tiba-tiba bajuku ada bekas lipstik,” jelas Angga.

“Siap-siap aja nanti kena omel pak Agus,” sela Ahmad.

“Pak Agus suka rokok ya?” tanya Angga kepada teman-temannya.

“Mau menyogok? Awas dosa,” sahut Amanda yang tiba-tiba datang bersama Annisa.

“Anam kok datang duluan?” tanya Angga.

“Sudah deh, jangan ngeles. Itu si Anam ninggal gue pas lampu merah,” jawab Amanda.

“Kita kan enggak ada yang rokok nih, siapa yang mau beli rokok untuk pak Agus?” tanya Angga.

“Lu sendiri dong,” cetus Anam.

“Gue nggak berani, Hehehe.”

“Gue nggak suka cowok perokok, apa sih manfaatnya rokok?” kata Annisa.

“Gue nggak tahu, Nis. Karena gue bukan perokok. Ya, mungkin ada kenikmatan atau sensasi tersendiri gitu,” Ahmad mencoba untuk menjawab.

“Sudah ah, ini bagaimana? Siapa yang mau beli rokok?” sewot Angga.

Dengan bijak Ahmad kembali berkata, “Jangan sogok pak Agus, hadapi saja hukuman yang diberikan. Jika kita menyogok, itu bisa jadi kebiasaan kita nantinya. Lihat itu koruptor yang suka sogok-menyogok, rakyat yang menjadi korban,”

“Dengar tuh calon dosen ngomong,” timpal Anita.

Mereka masuk ke dalam kelas masing-masing, Angga dengan nyali yang besar sudah siap dihukum pak Agus. Namun ternyata pak Agus bisa memaklumi penjelasan Angga, Angga pun luput dari hukuman.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *