Tinta Emas

oleh Adib La Tahzan

T: @TdmAdib | IG: @Adiblatahzan

Setelah berkenalan dengan Azzahra, Ahmad pun diajak ustaz Anwar salat berjamaah di masjid. Selesai salat, Ahmad mengaji di dalam masjid, karena memang keluarganya belum pulang dari rumah saudara. Azzahra terpukau mendengar lantunan ayat suci Alquran yang Ahmad baca. Karena suara Ahmad ternyata sangat merdu dalam membaca Alquran, karena ini malam Jumat, surah yang Ahmad lantunkan adalah surah Alkahfi.

Azzahra pun ikut membaca surah yang sama dengan Ahmad. Namun, dia tidak begitu konsentrasi. Hingga ditegur ustaz Anwar, “Zahra, bacaan kamu ada yang salah.”

Azzahra pun mengulangi bacaannya, yang membuat Ahmad selesai lebih dulu. Ahmad sempat mengobrol dengan ustaz Anwar sebelum salat isya. Ustaz Anwar yang melihat ke arah tas Ahmad menanyakan sesuatu.

“Itu pulpen mahal, Nak?” tanya ustaz Anwar.

“Tidak tahu, Pak. Ini pulpen dari teman,” jawab Ahmad sambil menyodorkan pulpennya.

“Lihat ini, Nak. Made in Swiszerland,” kata ustaz Anwar yang sangat teliti.

“Ya, Pak. Orang tua teman saya yang memberikan pulpen itu memang tinggal di Eropa,” jawab Ahmad.

“Nak Ahmad tahu harga pulpen ini?” tanya ustaz Anwar sambil memegang pulpen milik Ahmad.

“Tidak, Pak,” jawab Ahmad.

“Harganya sekitar 350 euro, atau jika dirupiahkan 5 jutaan,” terang ustaz Anwar.

Ahmad hanya geleng-geleng mendengar penjelasan ustaz Anwar. Tak terasa waktu azan pun tiba. Ustaz Anwar menyuruh Ahmad untuk mengumandangkan azan isya. Setelah ikamah, mereka pun salat berjamaah.

Selesai salat, Ahmad masih penasaran dengan pulpen yang dikasih Amanda, Ahmad pun menanyakan apa keistimewaan pulpen itu kepada ustaz Anwar, hingga dia tidak tahu kalau Azzahra sudah berlalu masuk ke dalam rumah.

“Ada apa dengan pulpen ini, Pak?” tanya Ahmad.

“Pulpen itu dibalut dengan batu berharga, tintanya itu bercampur dengan emas. Jadi, tinta emas itu sekarang bukan hanya istilah,” jawab ustaz Anwar.

Setelah mendengar jawaban ustaz Anwar, mata Ahmad baru mencari keberadaan Azzahra.Ustaz Anwar yang melihat Ahmad yang terlibat mencari sesuatu, bertanya, “Nak Ahmad mencari apa?”

“Tidak apa-apa kok, Pak,” jawab Ahmad yang terlihat agak malu.

Karena obrolan itu di serambi masjid Ahmad bisa melihat mobil keluarganya yang lewat, Ahmad pun pamit pulang dan sangat berterima kasih kepada ustaz Anwar.

“Sering-seringlah ke masjid, karena di masjid ada ketenangan,” pesan ustaz Anwar.

Ahmad mengangguk sambil bilang, “Insyaallah.”

Setelah Ahmad pulang, ustaz Anwar bergumam, “Aku baru tahu suara emas anak itu.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *