Tuan Badut

oleh Merlinda Yuanika

T: @d3k_linda | IG: @d3k_nda

Tuan Badut

“Idih, ngapain bawa-bawa beginian?”
“Jangan-jangan kamu banci,”
“Pulang sekolah langsung bersolek dan keliling kampung sambil nyanyi?”
“Apa? Mulut kalian ini, kembalikan!” Fathir sedikit berteriak.
“Sini!” Nara merampas benda kecil dari salah satu temannya.
“Ini dia pahlawan, pacar bukan, kekasih bukan, adik bukan, sok bela-bela,”
“Ini,” Nara menyerahkan lipstik di tangannya kepada Fathir.
“Bubar, jangan diperpanjang lagi,” Fathir pergi dari kelasnya.

“Ini,” Nara menyerahkan sesuatu untuk Fathir. “Jatuh, waktu kamu mengambil kaos olahraga,”
“Terima kasih,”
“Kenapa tidak disimpan di tempat yang aman?”
“Hanya benda begini,”
“Tapi tuduhannya mereka,”
“Tidak apa-apa, tidak benar, apa aku terlihat seperti yang mereka sangka-kan?”
“Tidak, pasti kamu lebih cantik daripada bayangan mereka,” Fathir dan Nara tertawa bersama.
Mereka baru terlihat akrab. Fathir baru pertama kali satu kelas dengan Nara.

“Banci, pantesan nggak punya teman, pacar apalagi,”
“Bukan urusan kalian, sebaiknya kalian diam!”
“Lipstik itu buat anak perempuan, kamu jangan-jangan bawa rok mini juga?”
“Kalian yang banci, beraninya hanya bicara kasar dan membully orang lain, kalian yang lebih pantas pakai rok mini,”
“Sialan, beraninya mulut kamu,”
Satu bogem mentah melayang ke wajah Fathir, semua anak perempuan yang kebetulan berada di kelas menjerit.
“Bubar!” Fathir akan membalas tapi suara lantang dari wali kelas mereka menggema, membuat Fathir menurunkan kepalan tangannya. “Jelaskan semua, Fathir, Aksa, Dana, Riza!”
“Fathir mau memukul saya, Bu.” Aksa mencari pembenaran.
“Kalau dia mau memukulmu lalu apa ini?” Nara menunjuk luka lebam di pipi Fathir. “Apa ini? Ini bogem mentah kamu,”
“Masalahnya apa? Kalian berteman kenapa harus berkelahi?”
“Fathir, Bu, dia banci, bawa-bawa lipstik ke sekolah, anak perempuan saja tidak bawa hal semacam itu,”
“Fathir, benar itu? Tuduhan teman-temanmu?”
“Ini, Bu,” Dana mencari sebuah lipstik di kantong tas Fathir.
“Apa ini? Ibu tidak habis pikir, kalian ini aneh-aneh saja,”
“Saya bukan seperti yang mereka tuduhkan, Bu, saya hanya mencari nafkah untuk sekolah saya, lipstik ini untuk mewarnai wajah saya menjadi badut,”
“Apa?” Mendadak kelas sepi, hening, haru datang menyelimuti. Guru wali kelas mereka terkejut.

Fathir mendadak berubah menjadi badut, lipstik merah cabai menggores harapan sekaligus luka. Nara terdiam, bangga, temannya jujur dan tangguh.

“Jangan bersedih Tuan Badut, kami bangga punya teman jujur,” Nara seketika menempelkan bibirnya dengan bibir merah Fathir.

Semua bertepuk tangan namun ada yang kalah telak.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *