Vape

oleh Taufan Sulaeman

T: @KataTaufan | IG: @KataTaufan

Kepulan uap campur asap mengudara di smoking area rumah kopi itu. Hampir semua yang mengunjungi suatu kedai kafein, yang letaknya di pojokan jalan raya salah satu daerah ibukota itu, tukang kepul, alias para penghisap vape; suatu bentuk alternatif dari rokok.

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat lokal, atau malahan bahkan telah membudaya, bahwa tidaklah lengkap ritual minum kopi tanpa sehisap rokok, meskipun hanya sebatang saja. Tapi itu dulu, sebelum hadirnya si mesin uap kecil, dengan mekanika vaporisasi, mengubah cairan isiannya menjadi gumpalan asap, bak awan mungil yang tercekat di ruang percakapan.

Kau sudah tiba lebih cepat dariku, berteman mesin vapemu, kau duduk manis di pojokan kedai, anteng menikmati kepulan asap, melengkapi secangkir kopi susu nan panas. Aku masih terjebak di perjalanan, macet membuatku semakin merindukanmu teramat sangat. Dan rintikan gerimis yang basahi kaca jendela mobil, turut berperan menambah beratnya rasa kangen yang menggelayuti hati.

Waktu selama apa pun, akan terasa singkat rasanya, jika tahu apa yang dituju. Tak berapa lama terasa, taksiku pun akhirnya tiba di teras depan kedai tempat kau menunggu.

“Sorry, lama. Kangen kamu pake banget…,” maafku sambil kulayangkan pelukan kepadamu dari sisi.

“Hmm, ambil pesanan kamu sana. Sudah aku belikan tadi, tinggal ambil saja,” rajukmu penuh ketus, mengingatkanku.

“Ice Hazelnut Americano Double Shot Espresso, kan?” tanyaku, memastikan.

“Iya, sukaanmu,” bisik manisnya di telingaku, geli.

“Okay…,” balasku sambil berlalu menuju bar tempat ambil pesanan.

“Ice Americano, ya Kak?” sambut barista tampan yang sudah siap membuatkan pesananku.

“Iya, kok tau? Eh, pakai Hazelnut Double Shot Espresso juga dong, jangan lupa ya,” ketusku, mengingatkan barista yang sepertinya masih trainee itu.

“Hehe, pastinya, Kak.”

“Kamu masih baru, ya?”

“Iya, Kak. Tapi saya ingat kok, tadi Masnya pesankan apa buat Kakak. Hehe…”

“Oh, masa? Tapi kamu tadi bilangnya cuma Ice Americano, padahal kan pesananku,” kalimatku tercekat, disambati langsung oleh pesananku yang sudah jadi.

“Ini, Kak, kopinya,” tangkisnya, cekatan.

“Oiya, thanks ya. Eh, siapa nama kamu? Gak lihat nametag dari tadi aku cari.”

“Buddy, Kak. Buddy Setiawan lengkapnya,” dia tuliskan namanya di secarik kertas tempel, merek Tom & Jerry, dengan sebatang Sharpie cokelat keemasan.

Dia tempelkan kertas itu di kantong bajunya.

“Oke, thanks, my Buddy.”

You’re always welcome, Ka Catur…”

“Have we met before?” heranku, sambil memandanginya.

Dan dia pun tersenyum.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *